Tampilkan postingan dengan label stratigrafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stratigrafi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2018

Geologi Regional Jampang , Jawa Barat

Zona Fisiografi Jawa Barat  (Van Bemmelen , 1949).

1  Fisiografi Regional

Berdasarkan Van Bemmemlen (1949) fisiografi Jawa Barat dapat dibagi menjadi 6 zona antara lain :

1.      Dataran Pantai Jakarta
2.      Antiklinorium Bogor
3.      Kubah dan Punggungan pada zona depresi tengah
4.      Gunung api Kuarter
5.      Zona depresi Tengah ( Zona Bandung)
6.      Pegunungan Selatan Jawa Barat

2  Stratigrafi Regional

Rab Sukamto (1975) dalam Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang , Jawa dengan skala 1 : 100.000 membagi ke dalam beberapa formasi antara lain :
Peta Regional Jampang dan Balekambang (Sukamto, 1975)
Batuan Pra – Tersier

Satuan batuan pra- Tersier ini terdiri atas batuan metamorf. Batuan ini merupakan batuan yang tertua yang tersingkap di daerah ini. Satuan ini terdiri atas sekis, amfibolit, filit, kwarsit, gabro yang berselingan dengan peridotit.

Formasi Ciletuh

Satuan ini terdiri dari batupasir kwarsa, konglomerat kwarsa, batulempung kelabu, serpih , batusabak, breksi polimik. Satuan ini menindih secara tidak selaras dengan batuan metamorf yang merupakan batuan dasar dari pulau jawa. Selain itu batuan ini termetamorfiskan lemah dan dekat dengan persentuhan dengan batuan pra – Tersier.

Formasi Rajamandala

Satuan ini menindih secara selaras Formasi Ciletuh terdiri dari konglomerat polimik , batupasir kwarsa, batulempung, napal, dan tufa. Sebagian menagndung serpihan batubara. Diperkirakan satuan ini dikorelasikan dengan anggota lempung, napal,dan batupasir kwarsa dari Formasi Rajamandala di Lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972).

Formasi Jampang

Satuan ini terdiri atas 3 satuan yaitu : Breksi Volkanik , Tufa dari anggota Cikarang dan Lava dari anggota Ciseureuh. Satuan ini tidak selaras dangan Formasi Rajamandala dan Formasi Ciletuh. Satuan ini diendapkan di lingkungan laut. Umur satuan ini diperkirakan Miosen Awal.

Formasi Lengkong

Satuan ini terdiri atas napal, batulempung, batupasir gampingan, tufa ,dan bapa bagian bawah terdapat tufa lapili dan breksi gampingan. Satuan ini diendapkan secara selaras dari Formasi Jampang. Umur satuan ini diperkirakan  Miosen Awal.

Formasi Cimandiri

Satuan ini terdiri atas tiga satuan antara lain : Satuan Batulempung (Anggota Nyalindung), Satuan Batugamping (Anggota Bojonglopang), dan Satuan Batupasir. Bagian utama formasi ini adalah batupasir, dengan perselingan dengan konglomerat, batulempung dan batugamping. Satuan ini diperkirakan berumur Akhir Miosen Tengah. Satuan ini diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Lengkong dan Formasi Jampang.

Formasi Beser

Satuan ini terdiri atas 2 satuan antara lain : Satuan Klastika gunungapi dan Satuan Lava. Bagian utama dari formasi ini terdiri atas breksi gunungapi, breksi lahar, breksi tufa, tufa , dan konglomerat. Sedangkan Lava andesit (anggota Cikondang) membentuk bukit – bukit kasar. Formasi Beser ini menindih secara tak selaras Formasi Cimandiri dan Formasi Jampang. Satuan ini diperkirakan diendapkan  di lingkungan darat dan pantai.

Formasi Bentang

Satuan ini dibagi menjadi 2 yaitu : Formasi Bentang bagian bawah dan bagian atas. Formasi Bentang bagian atas terdiri atas : Tufa kristal, tufa abu , tufa batu, pada umumnya napalan dan berbatu apung. Sedangkan Foramsi Bentang bagian bawah terdiri atas : batupasir, batulempung, batupasir gampingan , breksi tufa, batugamping, dan konglomerat. Formasi ini menindih secara tidak selaras dengan Formasi jampang dan di daerah barat berubah secara berangsur menjadi formasi beser. Umur Formasi diperkirakan Miosen akhir.

Formasi Cibodas

Satuan ini terdiri atas : batugamping, sebagian tufaan, batupasir gampingan. Bagian tara dan timur berangsur berubah menjadi formasi Bentang. Formasi ini diperkirakan berumur Miosen Akhir.

 Endapan Kuarter

Endapan Kuarter ini berupa endapan pantai , endapan batugamping terumbu koral, dan endapan undak muda. Ciri dari endapan ini berupa material lepas yang belum terkompaksi. Endapan ini diendapkan secara tidak selaras dengan satuan lainnya. Satuan ini merupakan endapan yang palin muda.

Selain endapan sedimen di daerah ini terdapat beberapa intrusi batuan antara lain

Dasit Ciemas

Intrusi Dasit dengan ciri : Fanerik, porfir, kelabu terang, fenokris bersudut, beberapa kristal kwarsa sepanjang 2 cm; intrusi berada di sekitar Kampung Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Intrusi ini merupakan pembawa zona mineralisasi emas . Satuan Dasit Ciemas ini menerobos Formasi Jampang.

Porfir Cilegok

Menerobos secara konkordan di Anggota Cikarang, Formasi Jampang. Terdiri dari andesit dan basal porfir, kelabu gelap dan terubah secara hidrotermal batuan sekitarnya.

Struktur Geologi Regional`

Struktur geologi regional Jawa Barat dibagi menjadi tiga pola utama yaitu Pola Meratus, Pola Sumatera, dan Pola Sunda (Martodjojo, 1984) yang diilustrasikan pada Gambar 3. Pola-pola tersebut merupakan hasil dari aktivitas lempeng-lempeng yang bekerja di sekitar wilayah regional penelitian dengan arah tegasan utama yang berbeda-beda yang diinterpretasikan sebagai adanya perubahan rezim tektonik dari waktu ke waktu.

Pola Meratus mempunyai arah timur laut-barat daya (NE-SW). Pola ini tersebar di daerah lepas pantai Jawa Barat dan Banten. Pola ini diwakili oleh Sesar Cimandiri, Sesar Naik Rajamandala, dan sesar-sesar lainya. Meratus lebih diartikan sebagai arah yang mengikuti pola busur umur Kapus yang menerus ke Pegunungan Meratus di Kalimantan (Katili, 1974, dalam Martodjojo, 1984).

Pola Sumatera mempunyai arah baratlaut-tenggara (NW-SE). Pola ini tersebar di daerah Gunung Walat dan sebagian besar bagian selatan Jawa Barat. Pola ini diwakili oleh Sesar Baribis, sesar-sesar di daerah Gunung Walat, dan sumbu lipatan pada bagian selatan Jawa Barat. Arah Sumatera ini dikenal karena kesejajaranya dengan Pegunungan Bukit Barisan (Martodjojo, 1984).

Pola Sunda mempunyai arah utara-selatan (N-S). Pola ini tersebar di daerah lepas pantai utara Jawa Barat berdasarkan data-data seismik. Arah ini juga terlihat pada Sesar Cidurian, Blok Leuwiliang. Arah sunda ini diartikan sebagai pola yang terbentuk pada Paparan Sunda (Martodjojo, 1984)

 Daftar Pustaka

Martodjojo. 1984. Evolusi Cekungan Bogor. Bandung : ITB. Tidak dipublikasikan

Sudjatmiko.1972.Peta Geologi Lembar Cianjur , Jawa. Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Sukamto, Rab.1975. Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa. Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Van Bemmelen , 1949.The Geology of Indonesia vol. 1 A. Government Printing Office, The Hague, Martinus Nijhoff, vol. 1A, Netherlands

Read More

Senin, 10 Desember 2018

Geologi Struktur Daerah Jawa

Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara – Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W) (Gambar 7).

Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut – Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur – Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan tatanan geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat rumit disamping mengundang pertanyaan bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya

Gambar 7. Pola stuktur di Pulau Jawa berupa pola Meratus , pola Sunda dan arah Timur – Barat (Sujanto dan Sumantri , 1977 dalam Natalia dkk., 2010).
Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah terekspresikan dari pola penyebarab singkapan batuan pra- Tersier di daerah KarangSambung. Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan terekspresikan di bagian timur. 

Pola Sunda berarah Utara - Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan.Ekspresi yang mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna.

Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan (Gambar 8). Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.

Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda. Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir. 

Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada sebelumnya (Pulunggono, 1994 dalam Natalia dkk., 2010 ). Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan arah barat-timur masih aktif hingga sekarang.

Gambar 8. Pola struktur dan sesar di Pulau Jawa ( Natalia dkk., 2010)

Referensi ;
Natalia, Eka P., Taufiq Andhika , Roid Faqih M., Dharmaleksa S.E.P, Ade AkhyarNurdin , Belly Dharana Kertiyasa , Novianto Dwi Nugrohao, Bayu Hari Utomo. 2010.”Geologi Pulau  Jawa”. Univesitas Jenderal Soedirman : Purbalingga.
Read More

Sabtu, 08 Desember 2018

Struktur Batuan Sedimen Beserta Diskripsinya

Graided_bedding_sed._rocks
Struktur batuan sedimen dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Struktur Primer (sygenetic); struktur yang terbentuk bersama dengan pembentukan batuan sedimen itu sendiri :
a. Struktur Fisika; struktur yang terbentuk karena proses fisika (berupa arus/gelombang)
  • Bedding, Cross-bedding, Graded-bedding, Inverted graded-bedding, Lamination.
  • Tidak ada kenampakan struktur; Massif.
  • Berdasar kenampakannya di permukaan batuan; Ripple marks, Tool marks, Flute cast, Mud cracks, Rain print.
  • Karena proses deformasi; Load cast, Convolute structure.
b. Struktur Biologi; struktur  yang terbentuk karena aktivitas organisme biologis.
  • Track, Trail (jejak)
  • Burrow (galian)
  • Cast, Mold (cetakan)
c. Struktur Kimia; struktur yang terbentuk karena aktivitas kimiawi.
  • Nodule, Konkresi.
2. Struktur Sekunder (epigenetic); struktur yang terbentuk setelah terbentuknya batuan sedimen tersebut, seperti fault, fold, jointing.

Dari klasifikasi tersebut, beberapa struktur yang umum ditemukan pada batuan sedimen antara lain :

1. BeddingBeddingAtau biasa dikenal sebagai Struktur Berlapis. Struktur ini merupakan ciri khas batuan sedimen yang memperlihatkan susunan lapisan-lapisan (beds) pada batuan sedimen dengan ketebalan setiap lapisan ≥ 1 cm.

2. Cross-BeddingCross_beddingPerlapisan Silang-Siur (Cross-Bedding), batuan sedimen berstruktur ini memperlihatkan struktur perlapisan yang saling potong memotong. Terbentuk karena pengaruh perubahan energi ataupun arah arus pada saat sedimentasi berlangsung.

3. Graded-BeddingGraded_beddingStruktur Perlapisan Bergradasi (Graded-Bedding), memiliki ciri-ciri ukuran butir penyusun batuan sedimen yang berubah secara gradual, yaitu makin ke atas ukuran butir yang semakin halus, dimana pada proses pembentukkannya butiran yang lebih besar terendapkan terlebih dahulu sedangkan yang lebih halus terendapkan di atasnya.

4. Lamination/LaminasiLaminationMerupakan Struktur Perlapisan (Bedding) dengan ketebalan masing-masing lapisan (bed thickness) yang kurang dari 1 cm.

5. Inverted Graded-BeddingInverted_graded_bedding_schNormalnya, struktur graded-bedding memperlihatkan perubahan gradual butiran yang semakin ke atas semakin halus. Akan tetapi karena suatu pengaruh tertentu, perubahan gradual butiran yang terbalik (makin ke bawah semakin halus) dapat terbentuk pada suatu batuan sedimen dan menyebabkan suatu kenampakan struktur Bergradasi Terbalik (Inverted Graded-Bedding).

6. Slump

Struktur Slump (luncuran), salah satu struktur batuan sedimen yang berbentuk lipatan kecil meluncur ke bawah karena adanya suatu pengangkatan pada suatu lapisan yang belum terkonsolidasi sempurna.

7. Load CastLoad_castMerupakan struktur batuan sedimen yang berupa lekukan di permukaan ataupun bentukan tak beraturan karena pengaruh suatu beban di atas batuan tersebut.

8. Flute CastFlute_castSuatu struktur batuan sedimen yang berupa gerusan di permukaan lapisan batuan karena pengaruh suatu arus.
9. Wash Out
Wash out adalah kenampakan struktur batuan sedimen sebagai hasil dari erosi tiba-tiba karena pengaruh suatu arus kuat pada permukaannya.
10. StromatoliteStromatoliteStromatolite adalah struktur lapisan batuan sedimen dengan susunan berbentuk lembaran mirip terumbu yang terbentuk sebagai hasil dari aktivitas cyanobacteria.

11. Tool MarksTool_marksStruktur ini hampir sama dengan flute cast, namun bentuk gerusan pada permukaan/lapisan batuan sedimen diakibatkan oleh gesekan benda/suatu objek yang terpengaruh arus.

12. Rain PrintRain_dropRain print atau rain marks merupakan suatu kenampakan/struktur pada batuan sedimen akibat dari tetesan air hujan.

13. Burrow
BurrowStruktur kenampakan pada lapisan batuan sedimen berupa lubang atau galian hasil dari suatu aktivitas organisme.

14. TrailTrailKenampakan jejak pada batuan sedimen berupa seretan bagian tubuh suatu makhluk hidup/organisme.

15. TrackLithified_dino_tracksSeperti struktur trail, track merupakan kenampakan jejak berupa tapak kaki suatu organisme.

16. Mud CracksMud_cracksBentuk retakan-retakan (cracks) pada lapisan lumpur (mud) yang umumnya berbentuk polygonal.

17. Flame Structureflame_structureFlame structure, kenampakan struktur yang seperti lidah/kobaran api. Struktur ini dapat terbentuk ketika suatu sedimen yang belum terlitifikasi sempurna terbebani oleh suatu lapisan sedimen yang lebih berat di atasnya.
Read More

Senin, 27 Februari 2017

STRATIGRAFI GUNUNG API "FASIES GUNUNG API PURBA GAJAHMUNGKUR"

Gunung api purba Gajahmungkur terletak di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah (Gambar 1). Secara umum, daerah Gajahmungkur dikenal karena bendungan / waduk Gajahmungkur dan penambangan emas yang dikelola penduduk setempat. Selain itu, wilayah ini juga menjadi tempat kunjungan lapangan bagi mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan ilmu kebumian, khususnya geologi. Batuan gunung api penyusun daerah ini terdiri atas batuan intrusi dalam (deep seated intrusion), intrusi dangkal (sub volcanic intrusion), dan batuan ekstrusi (extrusive igneous rocks). Batuan ini dikelompokkan ke dalam Formasi Mandalika (Surono et al., 1992), namun dalam keterangannya tidak disebutkan asal-usul dan hubungan antara batuan intrusi dan batuan ekstrusinya. Di pihak lain (Hartono, 2010) menyatakan bahwa batuan tersebut berasal dari kegiatan gunung api purba Gajahmungkur, dan hubungan antara batuan intrusi dan batuan ekstrusinya merupakan satu kesatuan proses gunung api. Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan komposisi kimia batuan dan fasies gunung apinya.Erosi terhadap batuan setempat dan penggalian yang dilakukan manusia selama ini dapat membantu memperjelas keberadaan tubuh gunung api utamanya yaitu fasies pusat dan fasies proksi. Fasies pusat merupakan lokasi dimana batuan pijar dan gas keluar ke permukaan bumi, atau dikenal dengan kawah, sedangkan fasies proksi merupakan daerah dimana aliran lava dan piroklastika diendapkan. Pemahaman ini penting dalam kaitannya dengan pokok bahasan makalah ini yaitu geologi gunung api purba Gajahmungkur. Makalah ini merupakan pembelajaran dengan metode pendekatan volkanologi fisik yang sudah dilakukan penulis sejak tahun 2000, yaitu melakukan pengukuran fragmen piroklastika, kemiringan asli, penghitungan volume dan diameter fenokris mineral,dan didukung oleh data sekunder berupa data petrologi-geokimia dan umur geologi.


Stratigrafi 
Stratigrafi daerah Gunung Gajahmungkur, Wonogiri telah diteliti oleh para ahli geologi (Misal: Sartono, (1990), Surono, et al., (1992); Tabel 1). Sartono (1990) menyebutkan bahwa penerapan prinsip tektonostratigrafi dapat menyelesaikan permasalahan batuan sedimen yang diendapkan pada umur Eosen – Miosen Bawah di Pegunungan Selatan, Jawa Tengah – Jawa Timur. Breksi gunung api dianggap sebagai onggokan sedimen yang mengalami peluncuran sebagai satuan delapsi, sedangkan batuan intrusi yang mengintrusinya dipisahkan, sehingga terkesan tidak ada hubungan genesis diantaranya. Surono et al., (1992) melaporkan bahwa Formasi Mandalika yang disusun oleh lava berkomposisi andesit – dasit, tuf dasit dengan retas diorit merupakan formasi tertua di daerah Gunung Gajahmungkur. Kemudian secara selaras menjari di atasnya diendapkan Formasi Semilir yang disusun oleh tuf, breksi batuapung dasit, batupasir tuf dan serpih. Di atas formasi ini diendapkan secara tidak selaras Formasi Oyo yang dikuasai oleh tuf andesit, napal tuf sebagai batuan hasil rombakan, dan diikuti oleh batugamping, dan batugamping napal yang mewakili Formasi Wonosari.

Struktur geologi yang dijumpai umumnya sesar (patahan) yang mempunyai arah umum Baratdaya – Timur laut dan sebagian Baratlaut – Tenggara, dan setempat yaitu di sekitar Baturetno dijumpai sayap-sayap antiklin atau sinklin. Secara umum struktur yang terbentuk di Kabupaten Wonogiri secara langsung di pengaruhi oleh tektonik dan sejarah geologi yang terjadi di P. Jawa.
Di tepi jalan di sebelah barat Waduk Gajah Mungkur banyak dijumpai singkapan seperti di jembatan kecamatan Purwantoro yang memperlihatkan sedimentasi endapan vulkanik (pyroclastys). Salah satunya singkapan tersebut adalah struktur diapir. Di bawah singkapan tersebut terdapat satu lapisan tuff berbutir kasar yang terendapkan di dasar laut sebagai lapisan lapili. Di atas lapisan lapili ini suatu lapisan debu vulkanik diendapkan dan semua ini tertutup oleh satu lapisan lapili lagi. Berat jenis dari lapisan lapili lebih besar daripada debu vulkanik, sehingga ada situasi yang tidak stabil, sehingga lapisan lapili akan menekan lapisan debu ke bawah. Di samping perbedaan berat jenis masing-masing lapisan, ada satu sifat lain yang berbeda, yaitu sifat plastis. Debu yang basah dengan porositas tinggi akan berubah bentuk dengan mudah. Keadaan ini terjadi pada lapisan endapan vulkanik tersebut. Lapisan debu akan berubah enjadi cairan kental yang akan mengalir secara plastis. Aliran plastis tersebut dibantu oleh tekanan dari atas. Akhirnya terjadi pembengkakan yang dibentuknya seperti jamur, atau membentuk struktur diapir. Jika aliran plastis itu tertekan terus-menerus, maka lapisan lapili yang ada diatasnya dapat tertembus aliran debu vulkanis.
Selain diapir dan penembusan lapisan atas, load casts dapat dilthat juga. Load casts pada singkapan ini adalah bahan lapili dan lapisan atas yang turun sebagai bola dalam bahan debu, hanya oleh karena perbedaan jenis beratnya. Struktur sedimen mi sering ditemui bila ada lapisan pasir diendapkan di atas lapisan lempung atau lanau yang lembek, dan mudah berubah bentuknya.
Fenomena yang menarik pada singkapan ini adalah pembentukan diapir yang tidak hanya dapat terjadi pada skala kecil, bahkan juga pada skala besar yang ratusan kilometer. Diapir kecil biasanya muncul pada lapisan lempung, sedangkan diapir besar muncul jika batu evaporit terkubur di bawah sedimen biasa. Di. Jawa, struktur diapir atau sejenisnya dapat ditemukan di kaki gunungapi. Gunungapi ml terletak di atas sedimen Tersier yang relatif plastis. Karena gaya berat gunungapi itu sendiri menyebabkan tekanan yang besar pada lapisan sedimen Tersier tersebut, sehingga terjadi struktur diapir.
Di sebelah barat Waduk Wonogiri (Cakaran), di sepanjang jalan raya, banyak batuan vulkanik tersingkap yang berumur Miosen Bawah. Di lokasi Cakaran kita dapat menemui lapili dengan warna terang; warna abu-abu sampai putih. Ini adalah light coloured acid tuffs and ash dan kadang-kadang juga pumiceous ash yang terutama terdiri atas mineral feldspar dan kuarsa. Di Cakaran dan banyak tempat lain, lapili dan debu vulkanik sudah mengeras sampai tuff, sehingga batuan ini dapat digergaji dan dijual untuk bangunan. Tuff ini dihasilkan selama erupsi yang dinamakan “Peleean” yang berbeda dan erupsi biasa, karena debu dan lapili, panas maupun dingin, terlempar ke luar dari kawah. Erupsi ‘Peleean’ disertai oleh gas vulkanik yang sangat panas dan turbulent. Dalam literatur peristiwa ini sering disebut nuee ardente atau glowing cloud, yaitu debu dan lapili yang bersinar panas dalam awan gas yang turbulen dan panas. Awan ini dapat mencapai kecepatan yang mendekati 100 km/jam ketika turun dari kawah ke kaki gunungapi.
Suhu yang tinggi dan gerakan gas turbulen menyebabkan vegetasi di lereng gunungapi hancur total dan berubah menjadi arang. Pada tuff di Cakaran seringkali sisa arang dapat dilihat yang tampak tercampur dalam awan panas dengan debu dan lapili. Campuran ini menunjukkan betapa turbulen awan gasnya. Semacam erupsi hampir selalu terjadi pada gunungapi yang tertutup dengan lava yang sangat kental (viscous lava dome) seperti di Merapi. Di bawah lava yang kental dalam saluran utama ke bawah, tekanan gas akan naik sampal ada letusan besar atau tubuh gunungapi terbongkar, sehingga gas ini keluar.
Aktivitas ekonomi yang ada berupa pengambilan batu tuff vulkanik. Batu ini terdiri atas dua bentuk, yaitu untuk bahan bangunan dan untuk batu pagar. Dalam kegiatan pengambilan batu seorang tenaga kerja satu hari mendapat 2 batang batu pilar dengan harga Rp 1000,-/pilar, sedangkan bata bangunan setiap rit sekitar 4 atau 5 meter kubik dengan harga tidak menentu. Usaha pengambilan batu tuff mempunyai tujuan ganda, yaitu pertama untuk diambil batunya, kedua untuk meratakan sebagal persiapan lahan pekarangan atau rencana bangunan.
Penggunaan lahan di sebelah kanan jalan menuju Wonogiri berupa areal Waduk Wonogini, dan sebelah kiri jalan sebagái daerah pertanian dengan tanaman padi dan polowijo. Karena topografi kasar dan sumber air yang terbatas, maka produksi pertanian juga rendah.
Waduk Wonogiri terletak pada formasi batuan yang cukup stabil yang tersusun oleh breksi dan batu pasir. Fungsi waduk adalah untuk pengendali banjir, pengairan, pembangkit tenaga listrik, dan rekreasi. Tipe bendung pada Waduk Wonogiri adalah tipe urug.
Waduk ini kalau ditinjau dan fungsinya sebagai reservoir air kurang tepat karena sedimentasinya sangat cepat. Sedimentasi yang sangat cepat tersebut disebabkan oleh lahan kritis yang sangat luas di daerah hulunya. Sumber air waduk ini berasal dari 8 anak sungai, yaitu S.Keduang, S.Wiroko, S.Temon, Bengawan Solo Hulu, S.Alang, S.Ngrancah (S. Ngrowo), dan S.Wuryantoro. Tinggi muka air tertinggi adalah 127 m, muka air terendah 127 m; volume waduk: 750 x 106 m³ luas genangan 8.000 Ha.
Waduk Wonogiri merupakan waduk serbaguna yang juga sebagai daerah wisata alam air dengan kegiatan naik perahu dan memancing. Di tengah-tengah waduk ini terdapat jalur rute Panglima Besar Jendral Sudirman waktu melakukan gerilya, yang ditandai dengan tugu-tugü di tengah waduk.
Di sebelah utara Kota Wonogiri dijumpai Bengawan Solo yang mengalirkan airya pada suatu lembah yang lebar. Dan lembah ini ke arah selatan-barat gawir-gawir sesar (fault-scarps) dan zone selatan dapat dilihat. Lembah Bengawan Solo sudah tennasuk Zone Tengah Pulau Jawa. Dengan jelas tampak balok-balok sesar turun secara gravitasi-tektonik (gravity tectonics) melalui sesar turun dengan bidang yang melengkung (concave fault planes). Semua itu adalah reaksi terhadap pengangkatan Plato Wonosari pada kala Plestosen Tengah, yang berkaitan dengan pengangkatan-berkubah (updoming/uparching) Zone Tengah sebelum kegiatan vulkanik regional mulai. Balok-balok sesar yang turun melalui sesar-sesar sering mengalami rotasi terputar balik (backward rotation along curve slip faults).
Dalam lembah ini balok-balok dan zone selatan masih kelihatan sebagai pulau di tengah dataran aluvial. Bukit-bukit ini juga terjadi dari bahan vulkanik berumur Miosen Bawah. Geologinya kelihatan masuk tuff masam (acid tuffs) sampai ignimbrit dengan kristal besar. Tuff kristal ini juga menunjukkan pengendapan dalam keadaan panas. Ada suatu sifat yang menarik, yaitu tuff ini mengandung kalsium karbonat. Tetapi kalsium karbonat harus sekunder, sebab tuff yang masih panas bila jatuh dalam laut tidak akan membentuk kristal. Barangkali sumber kalsium karbonat adalah Formasi Wonosari yang secara stratigrafis terletak di atas tuff-tuff ini. Kalsium karbonat terdapat pula di dalam urat (veins) dan barik-barik (veinlets), mungkin ini sudah membuktikan, bahwa kalsiurn karbonat adalah sekunder. Di daerah ini terdapat suatu sisa intrusi diorit bukit ini diberi nama Gunung Tenong (Tim Fakultas Geografi UGM, 1996 : 96-101).

Secara bentang alam, gunung api yang berbentuk kerucut dapat dibagi menjadi daerah puncak, lereng, kaki, dan dataran di sekelilingnya. Pemahaman ini kemudian dikembangkan oleh Williams dan McBirney (1979) untuk membagi sebuah kerucut gunung api komposit menjadi 3 zone, yakni Central Zone, Proximal Zone, dan Distal Zone. Central Zone disetarakan dengan daerah puncak kerucut gunung api, Proximal Zone sebanding dengan daerah lereng gunung api, dan Distal Zone sama dengan daerah kaki serta dataran di sekeliling gunung api. Namun dalam uraiannya, kedua penulis tersebut sering menyebut zone dengan facies, sehingga menjadi Central Facies, Proximal Facies, dan Distal Facies. Pembagian fasies gunung api tersebut dikembangkan oleh Vessel dan Davies (1981) serta Bogie dan Mackenzie (1998) menjadi empat kelompok, yaitu Central/Vent Facies, Proximal Facies, Medial Facies, dan Distal Facies .Sesuai dengan batasan fasies gunung api, yakni sejumlah ciri litologi (fisika dan kimia) batuan gunung api pada suatu lokasi tertentu, maka masing-masing fasies gunung api tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan data:
  1. inderaja dan geomorfologi,
  2.  stratigrafi batuan gunung api,
  3.  vulkanologi fisik,
  4. struktur geologi, serta
  5. petrologi-geokimia.
Pembagian fasies gunung api menjadi fasies sentral, fasies proksimal, fasies medial, dan fasies distalbeserta komposisi batuan penyusunnya (Bogie & Mackenzie, 1998).


Batuan utama yang menyusun daerah Gunung Gajahmungkur berasal usul dari kegiatan gunung api berupa koheren lava dan batuan piroklastika (Hartono, 2010). Koheren lava yang terdiri dari batuan intrusi dangkal (sill, retas), aliran lava, dan kubah lava menempati daerah pusat erupsi dan atau dekat pusat erupsi. Kedua daerah ini dalam ilmu kegunungapian dikenal dengan Fasies Pusat (SF) dan atau Fasies Proksi (PF) gunung api



Fasies Pusat dicerminkan oleh adanya kubah lava pada gunung api masa kini, sedangkan pada gunung api purba atau tua umumnya ditunjukkan oleh adanya batuan yang telah mengalami alterasi dan bahkan telah terbentuk mineralisasi, dan adanya batuan sebagai sisa cryptodomes. Secara bentang alam gunung api, fasies ini memperlihatkan daerah cekungan sebagai akibat perlakuan erosi permukaan, dan sering memperlihatkan bentang alam tonjolan di bagian dalam suatu bentang alam setengah melingkar atau bentang alam berbentuk bulan sabit. Di sisi lain, pola struktur geologi yang terbentuk memperlihatkan pola memencar atau radier. Hal ini cerminan dari adanya proses inflasi dan deflasi pergerakan magma ke permukaan bumi pada waktu gunung api aktif. Proses tersebut akan berlanjut pada pembentukan pola radier batuan intrusi dangkal (sill, retas) di fasies proksi tubuh gunung api.
Fasies Proksi dicerminkan oleh perselingan antara aliran lava dengan piroklastika berupa tuf maupun lapili tuf, dan kadang diterobos atau diintrusi oleh sill maupun retas. Secara umum fasies ini dibangun oleh material primer Gunung Gajahmungkur yang mengendap di sekitar kawah hingga pada bagian punggung gunung api. Batas Fasies Proksi ini ditandai oleh jarak terjauh endapan aliran lava dari pusat erupsinya dan umumnya diendapkan secara sektoral ke arah tertentu mengikuti arah bukaan maupun secara radier atau memencar, dan sebaran batuannya tergantung tipe letusannya. Material gunungapi yang menyusun fasies ini umumnya resisten dan membentuk tinggian mengikuti bentuk tubuhnya yang kerucut (cone shapes). Bentuk bentang alam tersebut sering memperlihatkan bentuk simetri dan di bagian dalam maupun tengahnya dijumpai adanya bentuk kerucut sisa leher gunung api (volcanic neck) ataupun berupa retas.
Kedua fasies gunung api, Fasies Pusat dan Fasies Proksi dibangun oleh Formasi Mandalika yang umumnya dikenal dengan sebutan Formasi Andesit Tua (van Bemmelen, 1949), sedangkan Formasi Semilir yang mengandung banyak pumis atau batuapung mewakili tubuh gunung api Fasies Medial. Kelompok batuan yang terendapkan di atasnya merupakan bagian tubuh gunung api Fasies Distal atau komponen batuan rombakan yang jaraknya paling jauh dari pusat erupsi. Keempat fasies gunung api seperti yang ditunjukkan di atas tidak semuanya dijumpai di Gunung Gajahmungkur. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan hilangnya batuan penyusun karena terbongkar waktu erupsi, tererosi, dan mungkin tertutup oleh massa batuan yang terbentuk sesudahnya. Struktur geologi yang membangun daerah Gunung Gajahmungkur berupa struktur utama yang berarah baratlaut – tenggara, dan beberapa berarah relatif timurlaut – baratdaya. Struktur geologi ini mempunyai arti penting terhadap munculnya gunung api Gajahmungkur pada waktu itu karena struktur geologintersebut melibatkan batuan dasar (basement). Regim regangan yang terjadi setelah berlangsungnya regim kompresi dari suatu model tegasan membentuk jalur atau ruang sehingga cairan magma dapat mencapai permukaan bumi (Sudarno, 1997; Bronto, 2009; Hartono, 2010). Widagdo (2006) menyebutkan adanya hubungan yang erat antara struktur geologi dengan endapan mineral logam yang terbentuk pada urat-urat kuarsa. Pola urat-urat kuarsa tersebut merupakan manisfestasi dari proses deformasi batuan.

Kenampakan bentang alam tinggian Gunung Gajahmungkur memperlihatkan bentuk relief kasar dan membentuk setengah melingkar  menyerupai bentuk bulan sabit (half moon). Relief kasar tersebut ditunjukkan oleh adanya beda tinggi yang besar (150 – 650 mdpl.), dan kemiringan yang terjal (25o – 90o). Relief kasar dan kemiringan batuan berkaitan dengan resistensi batuan breksi pumis yang banyak mengandung mineral kuarsa. Mineral kuarsa merepresentasikan jumlah kandungan unsur utama SiO2 (60,23 – 64,34 % berat) ini menunjukkan bahwa magma Gunung Gajahmungkur telah mengalami proses diferensiasi lanjut. Artinya magma yang awalnya berkomposisi basa berubah menjadi asam, dan mempunyai banyak kandungan gas, serta mempunyai kecenderungan meletus dahsyat. Bukti dari pernyataan tersebut adalah tersingkapnya batuan beku dalam (diorit amfibol – piroksin) berkomposisi asam – menengah, melimpahnya breksi pumis yang berkomposisi dasit. Hal tersebut juga dapat dikaitkan dengan erupsi Gunung Gajahmungkur pada waktu menghasilkan kelompok batuan yang menyusun Formasi Semilir berenergi sangat kuat (Indek Letusan Gunung Api/VIE > 6) yaitu melimpahnya volume tefra, breksi ko-ignimbrit, terdapatnya fragmen skis sebagai indikasi kepingan batuan dasar yang ikut terlempar ke permukaan bumi, dan masa erupsi yang panjang. Hal yang terakhir ini karena tidak dijumpainya batuan produk lelehan berupa aliran lava di dalam Formasi Semilir.
 Pada bagian dalam bentang alam setengah melingkar dibangun oleh bentuk kerucut Gunung Tenong yang mencerminkan sisa tubuh kepundan Gunung Gajahmungkur. Sisa kepundan tersebut berupa batuan beku plutonik berkomposisi diorit piroksin – amfibol. Secara ilmu kegunungapian fenomena bentang alam ini mengindikasikan bahwa lokasi ini sebagai sisa tubuh gunung api purba yang telah mengalami pelapukan dan tererosi lanjut. Di sisi lain, bentuk setengah melingkar tersebut berhubungan dengan diameter kawah yang terbentuk setelah bagian puncak hingga punggung Gunung Gajahmungkur. terbongkar karena erupsi dahsyat yang diikuti terbentuknya kaldera Gajahmungkur. Hal lain yang mendukung adalah proses erosi, namun sangat kecil pengaruhnya dalam pembentukan lembah kawah purbanya. Kenampakan mikroskopis batuan plutonik sebagai batuan kepundan Gunung Gajahmungkur dapat ditunjukkan oleh tekstur holokristalin faneroporfiritik, bentuk kristal yang euhedral, diameter besar (> 1,5 mm) dan komposisi mineral menengah – asam, sedangkan batuan yang membangun bentang alam melingkar ditunjukkan oleh tekstur hipokristalin porfiroafanitik hingga bertekstur gelas

Kenampakan petrografis ini memperjelas adanya perbedaan tekstur batuan dan kesamaan komposisi batuan yang dibangun di dalam tubuh Gunung Gajahmungkur dan di permukaan bumi. Hal ini memberikan pemahaman bahwa terdapat kesatuan proses antara batuan intrusi dan batuan ekstrusi, serta proses pengendapannya. Sementara itu, adanya fragmen batuan metamorf di dalam breksi pumis dapat memberikan pencerahan tentang tekanan, temperatur, dan kedalaman batuan dasar terjadi.
Jenis batuan dan jarak penyebaran batuan gunung api di daerah Gunung Gajahmungkur menunjukkan tingkat erupsinya. Artinya erupsi meletus akan menghasilkan jenis batuan dan jarak pengendapan lebih jauh dibandingkan dengan produk erupsi meleleh. Di sisi lain, erupsi yang tidak dapat mencapai permukaan bumi akan menghasilkan batuan intrusi dangkal yang jarak pengendapannya berdekatan atau di sekitar dengan korok magma yang umumnya berpola memancar/radier. Hal tersebut berhubungan dengan penentuan batas jarak terluar setiap fasies gunung api yang terbentuk, namun tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor lain yang menyertainya seperti komposisi magma, viskositas magma, kelerengan asli, dll. Hasil pengukuran dan analisis terhadap berbagai jenis batuan gunung api di Gunung Gajahmungkur (Hartono, 2010) terdapat tiga fasies utama gunung api yaitu fasies pusat, fasies proksi, dan fasies medial (Gambar 6).
Pembangunan tubuh kerucut Gunung Gajahmungkur diawali oleh pembentukan aliran lava dengan struktur bantal (pillow), yang menunjukkan terbentuknya gunung api di lingkungan air. Gunung api yang selama hidupnya hanya menghasilkan satu jenis batuan dikenal dengan nama gunung api monogenesis. Bentang alam gunung api monogenesis ini umumnya menyendiri, berupa bukit kecil dan berilief halus. Secara volkanologi pembentukan bentang alam ini berkaitan dengan tipe letusan meleleh atau efusif. Pembangunan tubuh Gunung Gajahmungkur mengalami perubahan menjadi gunung api poligenesis yang ditunjukkan oleh pembangunan tubuh kerucut gunung api yang disusun oleh perselingan berbagai jenis batuan gunung api. Hal ini berkaitan dengan tipe erupsi efusif, erupsi tipe strombolian hingga volkanian. Perkembangan bentang alam gunung api Gajahmungkur diperkirakan mencapai puncaknya pada pembentukan kaldera yaitu penghancuran tubuh gunung api bagian atas melalui letusan paroksimal tipe plinian.
Berdasarkan uraian dan penjelasan sebelumnya dapat memberikan pemahaman tentang adanya suksesi terbentuknya gunung api purba Gajahmungkur, Wonogiri. Suksesi tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya perubahan dari fase awal ke fase akhir dalam pembangunan tubuh gunung apinya (Gambar 7). Suksesi Gunung Gajahmungkur memperlihatkan perubahan fase pembangunan awal yang ditandai dengan munculnya aliran lava bantal, dan kemudian diteruskan fase pembangunan kedua yang ditandai dengan pembangunan tubuh kerucut gunung api, dan diakhiri oleh fase penghancuran sebagian tubuh gunung apinya sendiri yang ditunjukkan hilangnya bagian puncak kerucutnya.










PUSTAKA
Bronto, 2006. Fasies Gunungapi dan Aplikasinya, Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1.

Hartono, 2011. GEOLOGI GUNUNG API PURBA GAJAHMUNGKUR, WONOGIRI, JAWA TENGAH, Jurnal Ilmiah MTG, Vol 4.
Read More