Tampilkan postingan dengan label Ilmu Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Umum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Maret 2017

Gelombang Laut

Deskripsi tentang sebuah gelombang hingga kini masih belum jelas dan akurat, oleh karena  permukaan laut merupakan suatu bidang yang kompleks dengan pola yang selalu berubah dan tidak stabil (Garrison, 1993). Gelombang merupakan fenomena alam penaikan dan penurunan air secara periodik  dan dapat dijumpai di semua tempat di seluruh dunia. Gross (1993) mendefenisikan gelombang sebagai gangguan yang terjadi di permukaan air. Sedangkan Sverdrup at al, (1946) mendefenisikan gelombang sebagai sesuatu yang terjadi secara periodik terutama gelombang yang disebabkan oleh adanya peristiwa pasang surut.


Massa air permukaan selalu dalam keadaan bergerak, gerakan ini terutama ditimbulkan oleh kekuatan angin yang bertiup melintasi permukaan air dan menghasilkan energi gelombang dan arus. Bentuk gelombang yang dihasilkan cenderung tidak menentu dan tergantung pada beberapa sifat gelombang, periode dan tinggi dimana gelombang dibentuk, gelombang jenis ini disebut “Sea”. Gelombang yang terbentuk akan bergerak ke luar menjauhi pusat asal gelombang dan merambat ke segala arah, serta melepaskan energinya ke pantai dalam bentuk empasan gelombang. Rambatan gelombang ini dapat menempuh jarak ribuan kilometer sebelum mencapai suatu pantai, jenis gelombang ini disebut “Swell”.
Gelombang mempunyai ukuran yang bervariasi mulai dari riak dengan ketinggian beberapa centimeter sampai pada gelombang badai yang dapat mencapai ketinggian 30 m. Selain oleh angin, gelombang dapat juga ditimbulkan oleh adanya gempa bumi, letusan gunung berapi, dan longsor bawah air yang menimbulkan gelombang yang bersifat merusak (Tsunami) serta oleh daya tarik bulan dan bumi yang menghasilkan gelombang tetap yang dikenal sebagai gelombang  pasang surut.
Sebuah gelombang tertdiri dari beberapa bagian antara lain:
a.      Puncak gelombang (Crest) adalah titik tertinggi dari sebuah gelombang.
b.      Lembah gelombang (Trough) adalah titik terendah gelombang, diantara dua puncak gelombang.
c.       Panjang gelombang (Wave length) adalah jarak mendatar antara dua puncak gelombang atau antara dua lembah gelombang.
d.      Tinggi gelombang (Wave height) adalah jarak tegak antara puncak dan lembah gelombang.
e.      Priode gelombang (Wave period) adalah waktu yang diperlukan oleh dua puncak gelombang yang berurutan untuk melalui satu titik.
Menurut Nontji (1987) antara panjang dan tinggi gelombang tidak ada satu hubungan yang pasti akan tetapi gelombang mempunyai jarak antar dua puncak gelombang yang makin jauh akan mempunyai kemungkinan mencapai gelombang yang semakin tinggi. Pond and Pickard (1983) mengklasifikasikan gelombang berdasarkan periodenya, seperti yang disajikan pada Tabel 1. berikut ini.
Tabel 1.  Klasifikasi gelombang berdasarkan periode
Periode
Panjang Gelombang
Jenis Gelombang
0 – 0,2 Detik
0,2 – 0,9 Detik
Beberapa centimeter
Mencapai 130 meter
Riak (Riplles)
Gelombang angin
0,9 -15 Detik
Beberapa ratus meter
Gelombang besar (Swell)
15 – 30 Detik
0,5 menit – 1 jam
Ribuan meter
Ribuan kilometer
Long Swell
Gelombang dengan periode yang panjang (termasuk Tsunami)
5, 12, 25 jam
Beberapa kilometer
Pasang surut

Bhat (1978), Garisson (1993), dan Gross (1993) mengemukakan bahwa ada 4 bentuk besaran yang berkaitan dengan gelombang. Yakni :
a)      Amplitudo gelombang (A) adalah jarak antara puncak gelombang dengan permukaan rata-rata air.
b)      Frekuensi gelombang ( f ) adalah sejumlah besar gelombang yang melintasi suatu titik dalam suatu waktu tertentu (biasanya didefenisikan dalam satuan detik).
c)      Kecepatan gelombang (C) adalah jarak yang ditempuh gelombang dalam satu satuan waktu tertentu.
d)      Kemiringan gelombang (H/L) adalah perbandingan antara tinggi gelombang dengan panjang gelombang.
  •  Faktor-faktor Pembentuk Gelombang dan Jenis-jenis Gelombang
Secara umum gelombang yang terjadi di laut dapat terbentuk dari beberapa faktor pnyebab seperti :  angin, pasang surut, badai laut, dan seiche.

1.   Gelombang yang disebabkan oleh angin
Angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit utama gelombang. Bentuk gelombang yang dihasilkan cenderung tidak menentu dan bergantung pada beberapa sifat gelombang periode dan tinggi dimana gelombang dibentuk. Gelombang seperti ini disebut Sea. Bentuk gelombang lain yang disebabkan oleh angin adalah gelombang yang bergerak dengan jarak yang sangat jauh sehingga semakin jauh meninggalkan daerah pembangkitnya gelombang ini tidak lagi dipengaruhi oleh angin. Gelombang ini akan lebih teratur dan jarak yang ditempuh selama pergerakannya dapat mencapai ribuan mil. Jenis gelombang ini disebut Swell.
Tinggi gelombang rata-rata yang dihasilkan oleh angin merupakan fungsi dari kecepatan angin, waktu dimana angin bertiup, dan jarak dimana angin bertiup tanpa rintangan.Umumnya semakin kencang angin bertiup semakin besar gelombang yang terbentuk  dan pergerakan gelombang mempunyai kecepatan yang tinggi sesuai dengan panjang gelombang yang besar. Gelombang yang terbentuk dengan cara ini umumnya mempunyai puncak yang kurang curam jika dibandingkan dengan tipe gelombang yang dibangkitkan dengan angin yang berkecepan kecil atau lemah. Saat angin mulai bertiup, tinggi gelombang, kecepatan, panjang gelombang seluruhnya cenderung berkembang dan meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu peniupan berlangsung (Hutabarat dan Evans, 1984).
Jarak tanpa rintangan dimana angin bertiup merupakan fetch yang sangat penting untuk digambarkan dengan membandingkan gelombang yang terbentuk pada kolom air yang relatif lebih kecil seperti danau (di darat) dengan yang terbentuk di lautan bebas, (Pond and Picard, 1978).
Gelombang yang terbentuk di danau dengan fetch yang relatif  kecil dengan hanya mempunyai beberapa centimeter sedangkan yang terbentuk di laut bebas dimana dengan fetch yang lebih sering mempunyai panjang gelombang sampai ratusan meter. Kompleksnya gelombang-gelombang ini sangat sulit untuk dijelaskan tanpa membuat pengukuran-pengukuran yang lebih akurat dan kurang berguna bagi nelayan atau pelaut. Sebagai gantinya mereka membuat suatu cara yang lebih sederhana untuk mengetahui gelombang yaitu dengan menggunakan suatu daftar skala gelombang yang dikenal dengan  Skala Beaufort untuk  memberikan keterangan tentang kondisi gelombang yang terjadi di laut dalam hubungannya dengan kecepatan angin yang sementara berhembus (Hutabarat dan Evans, 1984).
2.   Gelombang yang disebabkan oleh pasang surut
Gelombang pasang surut yang terjadi di suatu perairan yang diamati adalah merupakan penjumlahan dari komponen-komponen pasang yang disebabkan oleh gravitasi bulan, matahari, dan benda-benda angkasa lainnya yang mempunyai periode sendiri. Tipe pasang berbeda-beda dan sangat tergantung dari tempat dimana pasang itu terjadi (Cappenberg, 1992).
Tipe pasang surut yang terjadi di Indonesia terbagi atas dua bagian yaitu tipe diurnal dimana terjadi satu kali pasang dan satu kali surut setiap hari misalnya yang terjadi di Kalimantan dan Jawa Barat. Tipe pasang surut yang kedua yaitu semi diurnal, dimana pada jenis yang kedua ini terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari, misalnya yang terjadi di wilayah Indonesia Timur (Ceppenberg,1992).
Pasang surut atau pasang naik mempunyai bentuk yang sangat kompleks sebab dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti hubungan pergerakan bulan dengan katulistiwa bumi, pergantian tempat antara bulan dan matahari dalam kedudukannya terhadap bumi, distribusi air yang tidak merata pada permukaan bumi dan ketidak teraturan konfigurasi kolom samudera.
3.   Gelombang yang disebabkan oleh badai atau puting beliung
Bentuk gelombang yang dihasilkan oleh badai yang terjadi di laut merupakan hasil dari cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi buruk terhadap kondisi perairan. Kecepatan gelombang tinggi dengan puncak gelombang dapat mencapai 7 – 10 meter. Bentuk gelombang ini dapat menghancurkan pantai dengan vegetasinya maupun wilayah pantai secara keseluruhan (Pond and Picard, 1978).
4.   Gelombang yang disebabkan oleh tsunami
Gelombang tsunami merupakan bentuk gelombang yang dibangkitkan dari dalam laut yang disebabkan oleh adanya aktivitas vulkanis seperti letusan gunung api bawah laut, maupun adanya peristiwa patahan atau pergeseran lempengan samudera (aktivitas tektonik).  Panjang gelombang tipe ini dapat mencapai 160 Km dengan kecepatan 600-700 Km/jam.  Pada laut terbuka dapat mencapai 10-12 meter dan saat menjelang atau mendekati pantai tingginya dapat  bertambah bahkan dapat mencapai 20 meter serta dapat menghancurkan wilayah pantai dan membahayakan kehidupan manusia, seperti yang terjadi di Kupang tahun 1993 dan di Biak tahun 1995 yang menewaskan banyak orang serta menghancurkan ekosistem laut (Dahuri,1996)
5.   Gelombang yang disebabkan oleh seiche
Gelombang seiche merupakan standing wave yang sering juga disebut sebagai gelombang diam atau lebih dikenal dengan jenis gelombang stasioner. Gelombang ini merupakan standing wave dari periode yang relatif panjang dan umumnya dapat terjadi di kanal, danau dan sepanjang pantai laut terbuka. Seiche merupakan hasil perubahan secara mendadak atau seri periode yang berlangsung secara berkala dalam tekanan atmosfir dan kecepatan angin (Pond and Picard, 1978).
Bhatt, (1978) mengemukakan bahwa ada 4 jenis gelombang, antara lain :
a.   Gelombang Katastrofik
Gelombang ini adalah gelombang laut yang besar dan muncul secara tiba-tiba yang disebabkan oleh aktivitas gempa bumi, gunung api, dan sebagainya. Gelombang katastrofik ini di namakan berdasarkan  akibat yang di timbulkannya yaitu mampu menghancurkan apa saja yang di temui. Gelombang ini juga sering disebut sebagai gelombang laut Seismik atau Tsunami.
b.   Gelombang Badai (strom Wave)
Gelombang ini adalah gelombang pasang laut tinggi yang ditimbulkan dari adanya hembusan angin kencang atau badai. Sering juga disebut sebagai Strom Suger. Gelombang badai ini dapat menyebabkan kerusakan yang besar untuk daerah pesisir.
c.   Gelombang Internal (Internal Wave)
Gelombang ini adalah gelombang yang terbentuk pada perbatasan antara 2 lapisan air yang berbeda densitas. Gelombang internal ini dapat ditemukan di bawah permukaan laut. Walaupun gelombang ini serupa dengan gelombang permukaan laut yang dibangkitkan oleh angin, namun keduanya mempunyai perbedaan dalam beberapa hal. Sebagai contoh, gelombang internal bergerak sangat lambat dan tidak dapat terdeteksi dengan mata, dan umumnya terjadi hanya dimana adanya variasi densitas. Gelombang ini mempunyai tinggi lebih besar dari pada gelombang permukaan.
d.   Gelombang Stasioner Standing Wave
Gelombang ini adalah bentuk gelombang laut yang di cirikan dengan tidak adanya gerakan gelombang yang merambat, yaitu permukaan air hanya bergerak naik turun saja. Umumnya ditemukan diperairan yang tertutup, misalnya pada danau, teluk atau kanal. Gelombang ini sering disebut juga gelombang diam atau seiche. Gelombang ini dihasilkan oleh badai yang digabungkan dengan kondisi atmosfir yang drastis. Gelombang stasioner dapat menghancurkan masa hidup suatu organisme dan dapat pula menyebabkan kerusakan daratan.
  • Pergerakan Gelombang
Berdasarkan kedalamannya, gelombang yang bergerak mendekati pantai dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu gelombang laut dalam dan gelombang permukaan. Gelombang laut dalam merupakan gelombang yang dibentuk dan dibangun dari bawah kepermukaan. Sedangkan gelombang permukaan merupakan gelombang yang terjadi antara batas dua media seperti batas air dan udara (Ippen, 1996 dan McLellan, 1975 dalam Tarigan, 1987).
Gelombang permukaan terjadi karena adanya pengaruh angin. Peristiwa ini merupakan peristiwa pemindahan energi angin menjadi energi gelombang di permukaan laut dan gelombang ini sendiri akan meneruskan energinya ke molekul air. Gelombang  akan menimbulkan riak dipermukaan air dan akhirnya dapat berubah menjadi gelombang yang besar. Gelombang yang bergerak dari zona laut lepas hingga tiba di zona dekat pantai (nearshore beach) akan melewati beberapa zona gelombang yaitu : zona laut dalam (deep water zone), zona refraksi (refraction zone), zona pecah gelombang (surf zone), dan zona pangadukan gelombang (swash zone) (Dyer,1978). Uraian rinci dari pernyataan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut :
Gelombang mula-mula terbentuk di daerah pembangkit (generated area) selanjutnya gelombang-gelombang tersebut akan bergerak pada zona laut dalam dengan panjang dan periode yang relatif pendek. Setelah masuk ke badan parairan dangkal, gelombang akan mengalami refraksi (pembelokan arah) akibat topografi dasar laut yang menanjak sehingga sebagian kecepatan gelombang menjadi berkurang periodenya semakin lama dan tingginya semakin bertambah, gelombang kemudian akan pecah pada zona surf dengan melepaskan sejumlah energinya dan naik kepantai (swash) dan setelah beberapa waktu kemudian gelombang akan kembali turun (backswash) yang kecepatnnya bergantung pada kemiringan pantai atau slope. Pantai dengan slope yang tinggi akan lebih cepat memantulkan gelombang, sedangkan pantai dengan slope yang kecil pemantulan gelombangnya relatif lambat. Kennet (1982) membagi zona gelombang atas tiga bagian, yaitu zona pecah gelombang (breaker zone), zona surf (surf zone), dan zona swash (swash zone).
Pada zona surf, terjadi angkutan sedimen karena arus sepanjang pantai terjadi dengan baik. Pada kedalaman dimana gelombang tidak menyelesaikan orbitalnya, gelombang akan semakin tinggi dan curam, dan akibatnya mulai pecah (Kennet, 1982). Sebuah gelombang akan pecah bila perbandingan antara kedalaman perairan dan tinggi gelombang adalah 1,28 (Yuwono, 1986) atau bila perbandingan antara tinggi gelombang dan panjang gelombang melampaui 1 : 7 (Gross, 1993).
Saat pecah gelombang akan mengalami perubahan bentuk. Dyer, 1978 membedakannya kedalam tiga bentuk empasan (tipe breaker), sementara Galvin (1966) mengklasifikasikan tipe empasan gelombang yaitu : tipe plunging, spilling, surging, dan collapsing
1.      Plunging, terjadi karena seluruh puncak gelombang melewati kecepatan gelombang, tipe empasan ini berbentuk cembung kebelakang dan cekung kearah depan. Gelombang ini sering timbul dari empasan pada periode yang lama dari suatu gelombang yang besar, dan biasanya terjadi pada dasar pantai yang hampir lebih miring di bandingkan pada tipeSpilling. Walaupun sangat menarik, namun umumnya gelombang ini tidak terjadi lama dan juga tidak baik untuk berselancar. Bahkan tipe empasan ini mampu menimbulkan kehancuran yang cukup hebat.
2.      Spilling, terjadi dimana gelombang sudah pecah sebelum tiba di depan pantai Gelombang ini lebih sering terjadi, dimana kemiringan dasarnya lebih kecil sekali, oleh karena itu reaksinya lebih lambat, sangat lama dan biasanya digunakan untuk berselancar.
3.      Surging, adalah tipe empasan dimana gelombang pecah tepat di tepi pantai. Tipe empasan ini sangat mempengaruhi lebarnya zona surf suatu perairan karena jenis gelombang yang pecah tepat di tepi pantai akan mengakibatkan semakin sempitnya zona surf. Gelombangnya lebih lemah saat mencapai pantai dengan dasar yang lebih curam dan kemudian gelombang akan pecah tepat pada tepi pantai (Gross, 1993).
4.      Collapsing, merupakan gelombang yang pecah setengah dari biasanya. Saat pecah gelombang tersebut tidak naik kedarat, terdapat buih dan terjadi pada pantai yang sangat curam (Galvin, 1968).

Apabila memperhatikan gelombang dilaut akan mendapat suatu kesan seolah-olah gelombang tersebut bergerak secara horizontal dari suatu tempat ke tempat lain. Tetapi kenyataanya tidaklah demikian karena suatu gelombang akan membentuk gerakan maju melintasi permukaan air.  Disana hanya terjadi gerakan kecil kearah depan dari massa air itu sendiri. Hal ini akan semakin mudah dipahami apabila meletakan sepotong gabus diantara gelombang-gelombang dilaut. Potongan gabus akan tampak timbul tenggelam sesuai dengan gerakan berturut-turut, dari puncak dan lembah gelombang yang lebih atau kurang tinggi pada tempat yang sama.
Gerakan partikel ini dalam gelombang sama dengan gerakan potongan gabus walaupun dari pengamatan yang lebih teliti menunjukan bahwa ternyata gerakan ini lebih kompleks dari hanya sekedar gerakan naik turun. Gerakan ini adalah gerakan yang membentuk sebuah lingkaran bulat dimana gabus dan partikel-partikel yang lain diangkut keatas dan membentuk setengah lingkaran dan gerakan ini akan terus berlanjut sampai pada tempat yang tinggi yang merupakan puncak gelombang. Benda-benda ini kemudian dibawa dan membentuk lingkaran penuh melewati tempat paling bawah yaitu lembah gelombang (Pond and Picard, 1978). Semua fenomena yang di alami gelombang pada hakekatnya berhubungan erat dengan topografi dasar laut (sea bottom topography).
  •   Energi Gelombang
Daerah pantai  termasuk daerah dan lingkungan yang berada didekat pantainya sangat ditentukan dan didominasi oleh faktor-faktor gelombang. Gelombang yang terjadi dilaut dalam pada umumnya tidak berpengaruh pada dasar laut dan sedimen yang terdapat didalamnya. Sebaliknya gelombang yang terdapat di dekat pantai terutama di daerah pecahan ombak ( surf zone ) memiliki energi yang besar dan sangat berperan dalam pembentukan morfologi  pantai seperti menyeret sedimen (sedimen berukuran pasir dan kerikil) yang berada di dasar laut diangkut dan ditumpahkan dalam bentuk gosong pasir (sand bard) Dahury,1996).
Read More

Rabu, 18 November 2015

Kekayaan Alam Bahan Tambang di Indonesia


1.   Alumunium
Alumunium adalah logam putih perak, ringan, dan mulur. Alumunium digunakan untuk peralatan dapur, peralatan rumah tangga, mebel, dan lain-lain. Tambang alumunium terdapat di Papua.

Tambang alumunium INALUM di Asahan Sumatra Utara
2.      Asbes
Tambang asbes terdapat di Kuningan – Jawa Barat, Papua, Pulau Halmahera – Maluku, Pulau Seram – Maluku.
Asbes, bahan yang sering digunakan untuk pembangunan khususnya rumah-rumah di Indonesia
3.      Aspal

Tambang aspal terdapat di Pulau Buton – Sulawesi Tenggara. Aspal juga dihasilkan oleh Permigan Wonokromo, Jawa Timur sebagai hasil pengolahan minyak bumi.
Tambang aspal di Pulau Buton – Indonesia
4.   Batubara

Daerah – daerah penghasil batubara adalah Bukitasam, pusatnya di Tanjungenim – Sumatra Selatan, Kotabaru (Pulau Laut) Kalimantan Selatan, sungai Berau, pusatnya di Samarinda – Kalimantan Timur, Dan Umbilin, pusatnya di Sawahlunto – Sumatra Barat. Selain itu, tambang batubara terdapat pula di Bengkulu, Jawa Barat, Papua, dan Sulawesi Selatan. Tambang batubara diusahakan oleh PN Batubara.
Tambang batubara di Kalimantan
5.      Bauksit

Bauksit adalah bahan baku alumunium. Tambang bauksit terdapat di Pulau Bintan (Riau) dan Singkawang (Kalimantan Barat). Selain itu, terdapat pula di Kalimantan Tengah.
Pertambangan bauksit di Indonesia
6.      Belerang

Belerang digunakan sebagai bahan obat patek dan korek api. Tambang belerang terdapat di Gunung Welirang (Jawa Timur). Selain itu terdapat juga di Jambi, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara.
Beberapa penambang mengambil belerang dengan cara melinggis bongkahan belerang di kaldera Gunung Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur
7.      Bijih Besi

Tambang bijih besi terdapat di Cilacap (pasir besi) Jawa Tengah, Cilegon – Banten, Gunung Tegak – Lampung, Lengkabana – Sulawei Tengah, Longkana – Sulawesi Tengah, Peg. Verbeek – Sulawesi Tengah, Pulau Dermawan – Kalimantan Selatan, Pulau Sebuku – Kalimantan Selatan, dan Pulau Suwang – Kalimantan Selatan. Selain itu, terdapat pula di Bengkulu, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Bijih besi diolah oleh PT Krakatau Steel, Cilegon – Jawa Barat. Pasir besi diolah PN Aneka Tambang, Cilacap – Jawa Tengah.

Tambang bijih besi di Kalimantan

8.      Emas dan Perak
Tambang emas terdapat di Bengkalis – Sumatra, Bolaang Mongondow – Sulawesi Utara, Cikotok – Jawa Barat, Logas – Riau, Meuleaboh – DI Aceh, Rejang Lebong – Bengkulu. Selain itu terdapat juga di Lampung, Jambi, Kalimantan Barat, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Pabrik pengolahan emas terdapat di Cikotok – Jawa Barat.
Para penambang emas di Cikotok – Jawa Barat

9.      Fosfat

Fosfat merupakan persenyawaan kotoran kelelawar dengan batu kapur. Fosfat digunakan dalam industri pupuk. Fosfat banyak terdapat di Bogor, Pangandaran (Jawa Barat), Gombong, Purwokerto, Jepara, Rembang (Jawa Tengah), dan Bojonegoro.
Penambangan fosfat di Christmas Island, perbatasan Indonesia dan Australia


10.  Garam

Garam dibuat dengan menampung air laut, kemudian diluapkan dengan sinar matahari sehingga tertinggal kristal – kristal garamnya. Garam banyak diusahakan di Pulau Madura – Jawa Timur.
Penambang garam sedang menggarap garam
Read More

Minggu, 12 April 2015

Terumbu Karang (Atol)


Terumbu karang adalah ekosistem khas laut dangkal di kawasan tropis yang memiliki keunikan dan keindahan yang khas dan pemanfaatannya harus secara alami.  Terumbu karang dibentuk dan didominasi terutama oleh karang batu atau algae berkapur.  Ekosistem ini memiliki produktivitas biologi dan keanekaragaman hayati yang tinggi.  Kedua hal tersebut memberi peluang manusia untuk memperoleh manfaat berupa sumberdaya ikan.  Keindahan terumbu karang sering ditawarkan sebagai objek wisata bahari.  Selain itu, karena strukturnya yang kuat,  terumbu karang juga merupakan perlindungan alami bagi kawasan pesisir.


            Terumbu karang merupakan ekosistem yang amat peka dan sensitif sekali.  Jangankan dirusak, diambil sebuah saja, maka rusaklah keutuhannya.  Ini dikarenakan kehidupan terumbu karang didasari oleh hubungan saling tergantung antara ribuan makhluk.  Rantai makanan adalah salah satu dari bentuk hubungan tersebut.  Proses terciptanya terumbu karang juga tidak mudah, terumbu karang membutuhkan waktu berjuta-juta tahun hingga tercipta secara utuh dan indah.


Topik pengelolaan ekosistem terumbu karang yang dibahas adalah:


Fungsi ekologis dan ekonomis terumbu karang
Jenis-jenis terumbu karang
Kerusakan terumbu karang
Strategi pengelolaan terumbu karang

1. Fungsi Ekologis dan Ekonomis Terumbu Karang

            Terumbu karang merupakan rumah bagi banyak mahkluk hidup laut.  Diperkirakan lebih dari 3.000 species dapat dijumpai pada terumbu karang yang hidup di Asia Tenggara.  Terumbu karang lebih banyak mengandung hewan vertebrata.  Beberapa jenis ikan seperti kepe-kepe dan betol menghabiskan seluruh waktunya diterumbu karang, sedangkan ikan lain seperti ikan hiu atau ikan kuwe lebih banyak menggunakan waktunya di terumbu karang untuk mencari makan.  Udang lobster, ikan scorpion dan beberapa jenis ikan karang lainnya memanfaatkan terumbu karang sebagai tempat bersarang dan memijah.

Fungsi ekologis terumbu karang adalah sebagai berikut (Tomascik et al.,1997 dalamSondita dan Bachtiar, 2002):
  1. Terumbu karang berfungsi sebagai habitat tempat memijah, berkembangnya larva (nursery) dan mencari makan bagi banyak sekali biota laut, banyak diantaranya mempunyai nilai ekonomis tinggi.
  2. Terumbu karang merupakan gudang keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi.
  3. Terumbu karang melindungi pantai dan ekosistem pesisir dari hempasan gelombang dan dampak langsung dari angin puyuh.
  4. Terumbu karang merupakan ekosistem laut tropis yang paling kompleks dan produktif.
  5. Ekosistem terumbu karang mempunyai peran fungsional yang penting dalam siklus biogeokimia global.
  6. Terumbu karang disekitar pulau kecil merupakan sumber utama pasir pantai dan gosong yang mendukung ekosistem yang kompleks.
  7. terumbu karang merupakan sumber bermacam-macam bahan makanan (ikan dan rumput laut).
  8. Terumbu karang merupakan sumber penting bahan bio aktif yang berguna dalam pembuatan obat-obatan.
  9. Terumbu karang merupakan lokasi wisata yang sangat populer.
  10. Terumbu karang menyediakan kesempatan untuk penelitian dan pendidikan.
2. Jenis-Jenis Terumbu Karang

Terumbu karang dapat diklasifikasikan menjadi 4 tipe berdasarkan bentuk dan lokasinya:

  1. Terumbu tepi (fringing reef)
  2. Terumbu penghalang (barrier reef)
  3. Atol,
  4. Patch reefs. 

Pada suatu terumbu karang terdapat variasi habitat yang mempunyai komunitas berbeda, sehingga masing-masing mempunyai nama tertentu, misalnya:
    1. Rataan terumbu (reef flat)
    2. Tubir (reef slope)
    3. Goba (lagoon)
    4. Gudus (reef crest)
      Berikut ini adalah Gambar keberadaan terumbu karang dilihat secara menyeluruh, baik dari kedalaman maupun posisinya.


      2.1 Jenis-Jenis Terumbu Karang

      Terumbu karang dapat diklasifikasikan menjadi 4 tipe berdasarkan bentuk dan lokasinya:



      • Terumbu tepi (fringing reef), adalah terumbu karang yang terdapat di pantai suatu pulau atau benua. Tipe ini merupakan terumbu yang paling umum, misalnya di Pantai Pasir Putih, Pantai Bama, Gili Ketapang.




      1. Terumbu penghalang (barrier reef), merupakan terumbu karang yang berbentuk memanjang melindungi pulau (benua) dari lautan atau samudera dan memiliki goba (lagoon)  diantara terumbu dan pulau. Contoh: terumbu penghalang Palahido di Kepulauan Tukang Besi dan terumbu penghalang Batu Daka di Kepulauan Togian. Di Indonesia dilaporkan ada 76 lokasi yang sebagian besar ada di sekitar Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku (Tomascik et al., 1997). 
      1. Atol, merupakan terumbu karang yang berbentuk cincin yang diselingi oleh saluran yang mengelilingi suatu goba (lagoon). Contoh: Atol Lintea Selatan, Kepulauan Tukang Besi, Atol Taka Bone Rate.






      Variasi habitat terumbu karang.
      1. Rataan terumbu (reef flat) adalah merupakan bagian dari terumbu yang relatif rata dengan kedalaman biasanya di bawah 3 meter.
      1. Tubir (reef slope) adalah bagian terumbu yang berupa lereng yang menghubungkannya ke dasar laut berpasir.  Daerah ini mempunyai kemiringan paling tinggi.
      1. Goba (lagoon) adalah bagian terumbu yang dalam dan dibatasi oleh tubir atau rataan terumbu di sekelilingnya. 


      1. Gudus (reef crest) adalah bagian terumbu yang mempertemukan rataan terumbu dan tubir.  Bagian ini biasanya muncul ke atas lebih tinggi daripada rataan terumbu dan merupakan tempat pecahnya ombak.

      3. Kerusakan Terumbu Karang

      Terumbu karang yang rusak didefinisikan sebagai rendahnya kelimpahan karang batu.  Rendahnya tutupan karang batu di terumbu karang sama jeleknya dengan sedikitnya tutupan pohon di suatu hutan.  Kelimpahan karang batu yang rendah bisa disebabkan oleh:

      1. Kematian massal karang akibat dimakan bintang laut

      1. Kematian massal karang disebabkan oleh peristiwa pemutihan karang (coral bleaching).
      1. Penggalian karang untuk batu kapur.

      4.                Penggunaan bom dalam penangkapan ikan konsumsi. 

      5.                Penggunaan potas (kalium sianida / KCN) dalam penangkapan ikan hias.
      6.                Pemakaian pupuk dalam intensifikasi pertanian.

      Pengrusakan terumbu karang tersebut khususnya yang disebabkan oleh aktivitas manusia, merupakan tindakan inkonstitusional alias melanggar hukum.  Dalam UU 1945 pasal 33 ayat 3 dinyatakan, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat."  Pasal 33 ini merupakan landasan yuridis dan sekaligus merupakan arah bagi pengaturan terhadap hal yang berkaitan dengan sumberdaya terumbu karang.  Selain itu, salah satu tujuan dari strategi konservasi dunia 1980 adalah menetapkan terumbu karang sebagai sistem ekologi dan penyangga kehidupan yang penting untuk kelangsungan hidup manusia dan pembangunan berkelanjutan.
      4. Strategi Pengelolaan Terumbu Karang

      Pengelolaan terumbu karang bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan.  White and Alcala (1988) dalam Sondita dan Bachtiar (2002) mengelompokan pendekatan dasar menjadi 7 macam yaitu:
      1.       Membagi wilayah.  Pendekatan konservasi ini membagi terumbu karang menjadi beberapa macam wilayah yang digunakan untuk bermacam-macam keperluan dan level penggunaan.
      2.       Menutup temporer.  Konservasi dilakukan dengan cara menutup terumbu selama bererapa waktu (minggu, bulan) pada musim reproduksi hewan atau tanaman yang penting untuk dilindungi.
      3.       Menutup dan membuka selama beberapa waktu.  Pendekatan ini membolehkan penggunaan terumbu karang selama beberapa waktu yang diselingi oleh penutupan untuk mengembalikan terumbu dari dampak penggunaannya.
      4.       Menutup permanen suatu wilayah kecil yang terpilih ( suaka laut/perikanan).
      5.       Menentukan suatu level penggunaan yang dipebolehkan.  Jika melewati daya dukungnya, penggunaan terumbu karang yang berlebihan dapat bersifat merusak.  Oleh karena itu, pengaturan tentang batas maksimal penyelam perhari atau batas penangkapan ikan per tahun merupakan aturan pengelolaan yang perlu dipikirkan.
      6.       Melarang atau membatasi alat-alat eksploitasi yang tidak dapat diterima.  Misalnya, jaring yang berukuran kecil atau muro-ami yang batunya menyentuh terumbu.
      7.       Membuat batas-batas ukuran penangkapan.  Pengambilan spesies-spesies yang diijinkan diatur dengan ketentuan batas-batas maksimum atau minimum untuk menjamin bahwa biota yang boleh ditangkap sempat bertelur sebelum mati.

      Ditinjau dari peraturan yang ada di negara ini. Maka terumbu karang sebagai salah satu sumberdaya alam yang ada di Indonesia, pengelolaannya harus didasarkan pada peraturan-peraturan, diantaranya:
      1.  UU RI No. 4/1982, tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan  hidup.
      2.   UU RI No. 9/1985, tentang perikanan
      3.   UU RI No. 5/1990, tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem
      4.   UU RI No. 9/1990, tentang kepariwisataan
      5.   Peraturan Pemerintah No. 29/1986, tentang analisa dampak lingkungan
      6.   Keputusan Menteri Kehutanan No. 687/Kpts.II/1989 tanggal 15 Nopember 1989, tentang pengusaha Hutan Wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Hutan Laut.
      7.   Surat edaran Menteri PPLH No. 408/MNPPLH/4/1979, tentang larangan pengambilan batu karang yang dapat merusak lingkungan ekosistem laut, ditujukan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia.
      8.   Surat edaran Direktur Jenderal Perikanan No. IK.220/D4.T44/91, tentang penangkapan ikan dengan bahan/alat terlarang, ditujukan kepada Kepala Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia.

      SUMBER: http://www.ut.ac.id
      Read More