Tampilkan postingan dengan label Petrologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petrologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2018

Geologi Regional Jampang , Jawa Barat

Zona Fisiografi Jawa Barat  (Van Bemmelen , 1949).

1  Fisiografi Regional

Berdasarkan Van Bemmemlen (1949) fisiografi Jawa Barat dapat dibagi menjadi 6 zona antara lain :

1.      Dataran Pantai Jakarta
2.      Antiklinorium Bogor
3.      Kubah dan Punggungan pada zona depresi tengah
4.      Gunung api Kuarter
5.      Zona depresi Tengah ( Zona Bandung)
6.      Pegunungan Selatan Jawa Barat

2  Stratigrafi Regional

Rab Sukamto (1975) dalam Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang , Jawa dengan skala 1 : 100.000 membagi ke dalam beberapa formasi antara lain :
Peta Regional Jampang dan Balekambang (Sukamto, 1975)
Batuan Pra – Tersier

Satuan batuan pra- Tersier ini terdiri atas batuan metamorf. Batuan ini merupakan batuan yang tertua yang tersingkap di daerah ini. Satuan ini terdiri atas sekis, amfibolit, filit, kwarsit, gabro yang berselingan dengan peridotit.

Formasi Ciletuh

Satuan ini terdiri dari batupasir kwarsa, konglomerat kwarsa, batulempung kelabu, serpih , batusabak, breksi polimik. Satuan ini menindih secara tidak selaras dengan batuan metamorf yang merupakan batuan dasar dari pulau jawa. Selain itu batuan ini termetamorfiskan lemah dan dekat dengan persentuhan dengan batuan pra – Tersier.

Formasi Rajamandala

Satuan ini menindih secara selaras Formasi Ciletuh terdiri dari konglomerat polimik , batupasir kwarsa, batulempung, napal, dan tufa. Sebagian menagndung serpihan batubara. Diperkirakan satuan ini dikorelasikan dengan anggota lempung, napal,dan batupasir kwarsa dari Formasi Rajamandala di Lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972).

Formasi Jampang

Satuan ini terdiri atas 3 satuan yaitu : Breksi Volkanik , Tufa dari anggota Cikarang dan Lava dari anggota Ciseureuh. Satuan ini tidak selaras dangan Formasi Rajamandala dan Formasi Ciletuh. Satuan ini diendapkan di lingkungan laut. Umur satuan ini diperkirakan Miosen Awal.

Formasi Lengkong

Satuan ini terdiri atas napal, batulempung, batupasir gampingan, tufa ,dan bapa bagian bawah terdapat tufa lapili dan breksi gampingan. Satuan ini diendapkan secara selaras dari Formasi Jampang. Umur satuan ini diperkirakan  Miosen Awal.

Formasi Cimandiri

Satuan ini terdiri atas tiga satuan antara lain : Satuan Batulempung (Anggota Nyalindung), Satuan Batugamping (Anggota Bojonglopang), dan Satuan Batupasir. Bagian utama formasi ini adalah batupasir, dengan perselingan dengan konglomerat, batulempung dan batugamping. Satuan ini diperkirakan berumur Akhir Miosen Tengah. Satuan ini diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Lengkong dan Formasi Jampang.

Formasi Beser

Satuan ini terdiri atas 2 satuan antara lain : Satuan Klastika gunungapi dan Satuan Lava. Bagian utama dari formasi ini terdiri atas breksi gunungapi, breksi lahar, breksi tufa, tufa , dan konglomerat. Sedangkan Lava andesit (anggota Cikondang) membentuk bukit – bukit kasar. Formasi Beser ini menindih secara tak selaras Formasi Cimandiri dan Formasi Jampang. Satuan ini diperkirakan diendapkan  di lingkungan darat dan pantai.

Formasi Bentang

Satuan ini dibagi menjadi 2 yaitu : Formasi Bentang bagian bawah dan bagian atas. Formasi Bentang bagian atas terdiri atas : Tufa kristal, tufa abu , tufa batu, pada umumnya napalan dan berbatu apung. Sedangkan Foramsi Bentang bagian bawah terdiri atas : batupasir, batulempung, batupasir gampingan , breksi tufa, batugamping, dan konglomerat. Formasi ini menindih secara tidak selaras dengan Formasi jampang dan di daerah barat berubah secara berangsur menjadi formasi beser. Umur Formasi diperkirakan Miosen akhir.

Formasi Cibodas

Satuan ini terdiri atas : batugamping, sebagian tufaan, batupasir gampingan. Bagian tara dan timur berangsur berubah menjadi formasi Bentang. Formasi ini diperkirakan berumur Miosen Akhir.

 Endapan Kuarter

Endapan Kuarter ini berupa endapan pantai , endapan batugamping terumbu koral, dan endapan undak muda. Ciri dari endapan ini berupa material lepas yang belum terkompaksi. Endapan ini diendapkan secara tidak selaras dengan satuan lainnya. Satuan ini merupakan endapan yang palin muda.

Selain endapan sedimen di daerah ini terdapat beberapa intrusi batuan antara lain

Dasit Ciemas

Intrusi Dasit dengan ciri : Fanerik, porfir, kelabu terang, fenokris bersudut, beberapa kristal kwarsa sepanjang 2 cm; intrusi berada di sekitar Kampung Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Intrusi ini merupakan pembawa zona mineralisasi emas . Satuan Dasit Ciemas ini menerobos Formasi Jampang.

Porfir Cilegok

Menerobos secara konkordan di Anggota Cikarang, Formasi Jampang. Terdiri dari andesit dan basal porfir, kelabu gelap dan terubah secara hidrotermal batuan sekitarnya.

Struktur Geologi Regional`

Struktur geologi regional Jawa Barat dibagi menjadi tiga pola utama yaitu Pola Meratus, Pola Sumatera, dan Pola Sunda (Martodjojo, 1984) yang diilustrasikan pada Gambar 3. Pola-pola tersebut merupakan hasil dari aktivitas lempeng-lempeng yang bekerja di sekitar wilayah regional penelitian dengan arah tegasan utama yang berbeda-beda yang diinterpretasikan sebagai adanya perubahan rezim tektonik dari waktu ke waktu.

Pola Meratus mempunyai arah timur laut-barat daya (NE-SW). Pola ini tersebar di daerah lepas pantai Jawa Barat dan Banten. Pola ini diwakili oleh Sesar Cimandiri, Sesar Naik Rajamandala, dan sesar-sesar lainya. Meratus lebih diartikan sebagai arah yang mengikuti pola busur umur Kapus yang menerus ke Pegunungan Meratus di Kalimantan (Katili, 1974, dalam Martodjojo, 1984).

Pola Sumatera mempunyai arah baratlaut-tenggara (NW-SE). Pola ini tersebar di daerah Gunung Walat dan sebagian besar bagian selatan Jawa Barat. Pola ini diwakili oleh Sesar Baribis, sesar-sesar di daerah Gunung Walat, dan sumbu lipatan pada bagian selatan Jawa Barat. Arah Sumatera ini dikenal karena kesejajaranya dengan Pegunungan Bukit Barisan (Martodjojo, 1984).

Pola Sunda mempunyai arah utara-selatan (N-S). Pola ini tersebar di daerah lepas pantai utara Jawa Barat berdasarkan data-data seismik. Arah ini juga terlihat pada Sesar Cidurian, Blok Leuwiliang. Arah sunda ini diartikan sebagai pola yang terbentuk pada Paparan Sunda (Martodjojo, 1984)

 Daftar Pustaka

Martodjojo. 1984. Evolusi Cekungan Bogor. Bandung : ITB. Tidak dipublikasikan

Sudjatmiko.1972.Peta Geologi Lembar Cianjur , Jawa. Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Sukamto, Rab.1975. Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa. Bandung : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Van Bemmelen , 1949.The Geology of Indonesia vol. 1 A. Government Printing Office, The Hague, Martinus Nijhoff, vol. 1A, Netherlands

Read More

Sabtu, 08 Desember 2018

Tektonik Cekungan Kutai

Tektonik Cekungan Kutai di sebelah utara berbatasan dengan Bengalon dan Zona Sesar Sangkulirang, di selatan berbatasan dengan Zona Sesar Adang, di barat dengan sedimen-sedimen Paleogen dan metasedimen Kapur yang terdeformasi kuat dan terangkat dan membentuk daerah Kalimantan Tengah, sedangkan di bagian timur terbuka dan terhubung denganlaut dalam dari Cekungan Makassar bagian Utara.

Elemen Struktur bagian timur Cekungan Kutai. (Beicip, 1992, op.cit. Allen dan Chambers, 1998. )
Cekungan Kutai dapat dibagi menjadi fase pengendapan transgresif Paleogen  dan pengendapan regresif  Neogen. Fase Paleogen dimulai dengan ekstensi pada tektonik dan pengisian cekungan selama Eosen dan memuncak pada fase longsoran tarikan post-rift dengan diendapkannya serpih laut dangkal dan karbonat selama Oligosen akhir. Fase Neogen dimulai sejak Miosen Bawah sampai sekarang, menghasilkan progradasi delta dari Cekungan Kutai sampai lapisan Paleogen. Pada Miosen Tengah dan lapisan yang lebih muda di bagian pantai dan sekitarnya berupa sedimen klastik regresif yang mengalami progradasi ke bagian timur dari Delta Mahakam secara progresif lebih muda menjauhi timur.

Sedimen-sedimen yang mengisi Cekungan Kutai banyak terdeformasi oleh lipatan-lipatan yang subparalel dengan pantai.  Intensitas perlipatan semakin berkurang ke arah timur, sedangkan lipatan di daerah dataran pantai dan lepas pantai terjal, antiklin yang sempit dipisahkan oleh sinklin yang datar. Kemiringan cenderung meningkat sesuai umur lapisan pada antiklin. Lipatan-lipatan terbentuk bersamaan dengan sedimentasi berumur Neogen. Banyak lipatan-lipatan yang asimetris terpotong oleh sesar-sesar naik yang kecil, secara umum berarah timur, tetapi secara lokal berarah barat.

Cekungan Kutai dari Oligosen akhir – sekarang. (Beicip, 1992, op.cit. Allen dan Chambers, 1998.)
Pada Kala Oligosen (Tersier awal) Cekungan Kutai mulai turun dan  terakumulasi sediment-sediment laut dangkal khususnya mudstone, batupasir sedang dari Formasi serpih Bogan dan Formasi Pamaluan. Pada awal Miosen, pengangkatan benua ( Dataran Tinggi Kucing) ke arah barat dari tunjaman menghasilkan banyak sedimen yang mengisi Cekungan Kutai pada formasi delta-delta sungai, salah satunya di kawasan Sangatta. Ciri khas sedimen-sedimen delta terakumulasi pada Formasi Pulau Balang, khususnya sedimen dataran delta bagian bawah dan sedimen batas laut, diikuti lapisan-lapisan dari Formasi Balikpapan yang terdiri atas mudstone, bataulanau, dan batupasir dari lingkungan pengendapan sungai yang banyak didominasi substansi gambut delta plain  bagian atas yang kemudian membentuk lapisan-lapisan batubara pada endapan di bagian barat kawasan Pinang. Subsidenceyang berlangsung terus pada waktu itu kemungkinan tidak seragam dan meyebabkan terbentuknya sesar-sesar pada sedimen-sedimen.Pengendapan pada Formasi Balikpapan dilanjutkan dengan akumulasi lapisan-lapisan Kampung Baru pada kala Pliosen. Selama Kala Pliosen, serpih dari serpih Bogan dan Formasi Pamaluan yang sekarang terendapkan sampai kedalaman 2000 meter, menjadi  kelebihan tekanan dan tidak stabil, menghasilkan pergerakan diapir dari serpih ini melewati sedimen-sedimen diatasnya menghasilkan struktur antiklin-antiklin rapat yang dipisahkan oleh sinklin lebih datar melewati Cekugan Kutai dan pada kawasan Pinang terbentuk struktur Kerucut Pinang dan Sinklin Lembak.

Referensi :

Allen, G.P., dan Chambers,J.L.C.,1998, Sedimentation in the Modern and Miocen Mahakam Delta. IPA, hal. 156-165
Read More

Struktur Batuan Sedimen Beserta Diskripsinya

Graided_bedding_sed._rocks
Struktur batuan sedimen dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Struktur Primer (sygenetic); struktur yang terbentuk bersama dengan pembentukan batuan sedimen itu sendiri :
a. Struktur Fisika; struktur yang terbentuk karena proses fisika (berupa arus/gelombang)
  • Bedding, Cross-bedding, Graded-bedding, Inverted graded-bedding, Lamination.
  • Tidak ada kenampakan struktur; Massif.
  • Berdasar kenampakannya di permukaan batuan; Ripple marks, Tool marks, Flute cast, Mud cracks, Rain print.
  • Karena proses deformasi; Load cast, Convolute structure.
b. Struktur Biologi; struktur  yang terbentuk karena aktivitas organisme biologis.
  • Track, Trail (jejak)
  • Burrow (galian)
  • Cast, Mold (cetakan)
c. Struktur Kimia; struktur yang terbentuk karena aktivitas kimiawi.
  • Nodule, Konkresi.
2. Struktur Sekunder (epigenetic); struktur yang terbentuk setelah terbentuknya batuan sedimen tersebut, seperti fault, fold, jointing.

Dari klasifikasi tersebut, beberapa struktur yang umum ditemukan pada batuan sedimen antara lain :

1. BeddingBeddingAtau biasa dikenal sebagai Struktur Berlapis. Struktur ini merupakan ciri khas batuan sedimen yang memperlihatkan susunan lapisan-lapisan (beds) pada batuan sedimen dengan ketebalan setiap lapisan ≥ 1 cm.

2. Cross-BeddingCross_beddingPerlapisan Silang-Siur (Cross-Bedding), batuan sedimen berstruktur ini memperlihatkan struktur perlapisan yang saling potong memotong. Terbentuk karena pengaruh perubahan energi ataupun arah arus pada saat sedimentasi berlangsung.

3. Graded-BeddingGraded_beddingStruktur Perlapisan Bergradasi (Graded-Bedding), memiliki ciri-ciri ukuran butir penyusun batuan sedimen yang berubah secara gradual, yaitu makin ke atas ukuran butir yang semakin halus, dimana pada proses pembentukkannya butiran yang lebih besar terendapkan terlebih dahulu sedangkan yang lebih halus terendapkan di atasnya.

4. Lamination/LaminasiLaminationMerupakan Struktur Perlapisan (Bedding) dengan ketebalan masing-masing lapisan (bed thickness) yang kurang dari 1 cm.

5. Inverted Graded-BeddingInverted_graded_bedding_schNormalnya, struktur graded-bedding memperlihatkan perubahan gradual butiran yang semakin ke atas semakin halus. Akan tetapi karena suatu pengaruh tertentu, perubahan gradual butiran yang terbalik (makin ke bawah semakin halus) dapat terbentuk pada suatu batuan sedimen dan menyebabkan suatu kenampakan struktur Bergradasi Terbalik (Inverted Graded-Bedding).

6. Slump

Struktur Slump (luncuran), salah satu struktur batuan sedimen yang berbentuk lipatan kecil meluncur ke bawah karena adanya suatu pengangkatan pada suatu lapisan yang belum terkonsolidasi sempurna.

7. Load CastLoad_castMerupakan struktur batuan sedimen yang berupa lekukan di permukaan ataupun bentukan tak beraturan karena pengaruh suatu beban di atas batuan tersebut.

8. Flute CastFlute_castSuatu struktur batuan sedimen yang berupa gerusan di permukaan lapisan batuan karena pengaruh suatu arus.
9. Wash Out
Wash out adalah kenampakan struktur batuan sedimen sebagai hasil dari erosi tiba-tiba karena pengaruh suatu arus kuat pada permukaannya.
10. StromatoliteStromatoliteStromatolite adalah struktur lapisan batuan sedimen dengan susunan berbentuk lembaran mirip terumbu yang terbentuk sebagai hasil dari aktivitas cyanobacteria.

11. Tool MarksTool_marksStruktur ini hampir sama dengan flute cast, namun bentuk gerusan pada permukaan/lapisan batuan sedimen diakibatkan oleh gesekan benda/suatu objek yang terpengaruh arus.

12. Rain PrintRain_dropRain print atau rain marks merupakan suatu kenampakan/struktur pada batuan sedimen akibat dari tetesan air hujan.

13. Burrow
BurrowStruktur kenampakan pada lapisan batuan sedimen berupa lubang atau galian hasil dari suatu aktivitas organisme.

14. TrailTrailKenampakan jejak pada batuan sedimen berupa seretan bagian tubuh suatu makhluk hidup/organisme.

15. TrackLithified_dino_tracksSeperti struktur trail, track merupakan kenampakan jejak berupa tapak kaki suatu organisme.

16. Mud CracksMud_cracksBentuk retakan-retakan (cracks) pada lapisan lumpur (mud) yang umumnya berbentuk polygonal.

17. Flame Structureflame_structureFlame structure, kenampakan struktur yang seperti lidah/kobaran api. Struktur ini dapat terbentuk ketika suatu sedimen yang belum terlitifikasi sempurna terbebani oleh suatu lapisan sedimen yang lebih berat di atasnya.
Read More

KLASIFIKASI BATUAN BEKU

Fenton menggolongkan batuan beku berdasarkan tekstur dan tempat terbentuknya. Batuan beku memiliki beragam tekstur yang dipengaruhi oleh tempat dan kedalaman terbentuknya. Kedalaman yang berbeda menyebabkan batuan beku memiliki tekstur yang berbeda pula.
Kelompok batuan beku menurut Fenton :
  • Batuan berbutir kasar; terbentuk jauh di kedalaman, dan memiliki ukuran kristal yang cukup besar.
  • Batuan berbutir halus; terbentuk di dekat permukaan atau di permukaan, dan memiliki kristal yang sangat kecil.
  • Batuan glassy; umumnya terbentuk/membeku pada permukaan aliran lava, karena pendinginannya yang sangat cepat menyebabkan mineral-mineralnya tidak sempat mengkristal.
  • Batuan fragmental; terbentuk dari lemparan kuat material letusan suatu gunung berapi. Terdiri dari banyak butiran dan pecahan yang telah disatukan oleh panas gunung berapi.
Fenton juga menjelaskan bahwa batuan beku akan berwarna cerah apabila mengandung sedikit “iron-magnesian minerals”, dan akan berwarna gelap apabila mengandung banyak “iron-magnesian minerals”. Contoh batuan beku yang digolongkan menurut Fenton adalah Granit dan Sianit.
Penggolongan batuan beku menurut Fenton memiliki kelebihan, yaitu digunakannya plagioklas sebagai kunci mineral sehingga lebih terperinci. Namun memiliki kekurangan pada ukuran butir batuan berbutir kasar yang masih dalam satu golongan.
Sampel Granit.
.
Klasifikasi Batuan Beku Menurut Russel B. Travis
Travis menggolongkan batuan beku berdasarkan tekstur dan komposisi kimia.
1. Tekstur
Oleh Travis, batuan beku dapat digolongkan berdasar syarat teksturalnya :
a. Tingkat kristalinitas (degree of crystalline)
  • Holocrystalline, seluruhnya kristalin.
  • Hypocrystalline (hyalocrystalline/merocrystalline), sebagian tersusun dari kaca (glass).
  • Holohyaline (glassy), seluruhnya tersusun dari glass.
b. Ukuran butir (grain size)
1) Phaneritic, tersusun dari butiran yang kasat mata;
  • Butiran kasar (coarse grained), tersusun dari butiran berdiameter >5mm.
  • Butiran sedang (medium grained), tersusun dari butiran berdiameter 1-5mm.
  • Butiran halus (fine grained), tersusun dari butiran <1mm.
2) Aphanitic, tersusun dari butiran tak kasat mata.
  • Microcrystalline, tersusun dari butiran yang dapat diamati dengan mikroskop.
  • Cryptocrystalline, tersusun dari butiran yang tidak dapat diamati dengan mikroskop, tetapi keseluruhannya merupakan kristalin.
  • Glassy, keseluruhan tersusun atas glass.
c. Susunan butiran (grain relationship)
  • Granular, tersusun dari butiran berdimensi hampir serupa (equidimensional).
  • Equigranular, tersusun dari butiran berukuran hampir seragam.
  • Granitichypidiomorphic granular.
  • Porphyritic, tersusun dari butiran berukuran sama atau berbeda di dalam satu kelompok yang mempunyai butiran yang lebih halus dan seragam.
  • Diabasic, tersusun dari piroksen anhedral (atau amfibol) yang terletak di antara lembaran plagioklas yang tidak terarah.
  • Ophitic, tersusun dari lembaran plagioklas yang dikelilingi oleh lembaran piroksen.
  • Pegmatitic, tersusun dari butiran yang menunjukkan rentang ukuran lebar, namun umumnya terlihat lebih besar dibandingkan pada batu induk.
  • ApliticAllotrimorphic-granular, menyerupai gula dan umumnya memiliki butiran halus.
d. Tingkat perkembangan kristal pada butiran
1) Ketentuan untuk butiran tunggal/individu
  • Euhedral (idiomorphicautomorphic), seluruh atau hampir seluruhnya dikelilingi permukaan kristal.
  • Subhedral, sebagian dikelilingi permukaan kristal.
  • Anhedral (xenomorphic), seluruhnya tidak dikelilingi permukaan kristal.
2) Ketentuan untuk tekstur batuan beku
  • Panidiomorphic, tersusun seluruhnya oleh butiran euhedral.
  • Hypidiomorphic (hypautomorphic), tersusun atas campuran butiran anhedral dan subhedral dan/atau euhedral.
  • Allotriomorphic, tersusun seluruhnya atas butiran anhedral.
e. Beberapa tekstur batuan vulkanik umum
  • Vesikular, memiliki vasikel (permulaan) menyerupai tabung, oval atau bulst.
  • Amygdaloidal, memiliki amygdules (vesikel pengisi yang tersusun atas mineral sekunder).
  • Pumiceous, banyak vasikel dengan tekstur halus, dimana vesikel umumnya tubular (pada batuan vulkanik bersilika).
  • Scoriaceous, banyak vasikel dengan tekstur kasar, dimana vasikel umumnya membulat (pada batuan vulkanik basaltik).
  • Spherulitic, mempunyai bentuk membulat yang terbentuk dari material kristalin (spherulites).
2. Komposisi Kimia
Oleh Travis, penggolongan batuan beku berdasarkan komposisi kimia adalah dengan menghitung kuantitas silika (SiO2) dan komposisi mineral feldspar (K,Na,Ca). Unsur kimia batuan beku ditentukan oleh sumber magma dan interaksi magma dengan batuan yang dilaluinya. Komposisi kimia batuan beku umumnya dapat dilihat dari mineral atau warnanya, dimana ada empat komposisi utama batuan beku, yaitu :
  • Felsic, merupakan tipe batuan dari lempeng samudera, felsik kaya akan feldspar dan silika (kandungan silika 55% – ~70%). Potasium feldspar menyusun >1/3 total feldspar keseluruhan, dan plagioklas menyusun <2/3 total feldspar keseluruhan.
  • Mafic, adalah tipe batuan dari lempeng benua, mafik kaya magnesium dan besi serta sedikit silika (kandungan silika antara 45%-50%). Feldspar didominasi plagioklas kaya kalsium dengan hanya sedikit mengandung atau bahkan tanpa K- atau Na-feldspar.
  • Intermediet, di antara felsik dan mafik, kandungan silika antara 55%-65%. Plagioklas feldspar menyusun >2/3 keseluruhan feldspar, dan plagioklas kaya Na lebih banyak dari plagioklas kaya Ca. Batuan intermediet ditemukan dalam zona subduksi.
  • Ultramafic, mengandung banyak magnesium dan besi, sedikit silika (kandungan silika <45%), dengan hanya mengandung sedikit atau tanpa feldspar. Batuan ultramafic berasal dari mantel Bumi.
Contoh batuan bekunya adalah basal dan riolit. Kelebihan penggolongan batuan beku oleh Travis adalah penggunaan feldspatoid dalam penggolongan dan penamaan batuannya yang lebih detail. Namun akan menjadi lebih rumit karena harus menentukan kandungan feldspar batuan beku.
Sampel Basal
.
Klasifikasi Batuan Beku Menurut Hamblin & Howard

Pengelompokan batuan beku oleh Hamblin & Howard menekankan pada komposisi dan tekstur.

1. Komposisi

Sekitar 99% batuan beku tersusun atas delapan unsur; oksigen, silikon, aluminium, besi, sodium, kalsium, potasium dan magnesium. Sebagian besar elemen-elemen tersebut terdapat dalam struktur kristal mineral pembentuk batuan dan membentuk feldspar, olivin, piroksen, amfibol, kuarsa, dan mika, yang menyusun lebih dari 95% volume semua batuan beku. Magma kaya besi, magnesium dan kalsium termasuk dalam mafik, membentuk sebagian besar olivin, piroksen, amfibol, kalsium plagioklas. Magma yang kaya silika dan aluminium disebut sialik, dan cenderung membentuk kuarsa, kalium feldspar, dan natrium plagioklas. Terdapat tiga kriteria utama dalam penggolongan batuan beku :
  • Keberadaan atau ketiadaan kuarsa; kuarsa, mineral penting batuan sialik karena kuarsa merupakan elemen batuan intermediet dan mafik.
  • Komposisi feldspar; kalium feldspar dan natrium plagioklas adalah mineral penting pada batuan sialik dan jarang ditemukan dalam batuan intermediet dan mafik.
  • Perbandingan dan jenis mineral feromagnetik; umumnya, batuan mafik kaya mineral ferromagnesian, dan batuan sialik kaya kuarsa.
Proses kristalisasi mineral terjadi pada suhu magma antara 1200oC hingga 600oC. Mineral dengan titik beku tertinggi akan terkristalisasi terlebih dahulu dan memiliki kebebasan mengembangkan permukaannya lebih baik. Sedangkan mineral yang mengkristal pada suhu yang lebih rendah terpaksa berkembang dengan tidak cukup ruang di antara kristal-kristal yang terbentuk terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan mineral tersebut memiliki ketidakteraturan permukaan dan karakteristik.
Minerals Chrystallization Order
2. Tekstur
Oleh Hamblin dan Howard, tekstur batuan beku dibagi dalam jenis-jenisnya :
  • Phaneritic Texture, kristal-kristal individual cukup besar untuk diamati langsung.
  • Pophyritic-Phaneritic Texture, terdiri dari dua kristal yang berbeda ukuran dan dapat diamati langsung, dimana kristal yang lebih besar (phenocryst) dikelilingi matriks atau groundmass (kristal yang lebih kecil).
  • Aphanitic Texture, kristal individual berukuran sangat kecil dan tidak dapat diamati langsung (harus dengan mikroskop), terlihat massif dan tidak berstruktur.
  • Porphyritic-Aphanitic Texture, dimana phenocryst terletak dalam matriks afanitik.
  • Glassy Texture, tidak mengandung kristal dan menyerupai kaca (glass).
  • Fragmental Texture, tersusun atas fragmen ashpumice, dan batuan afanitik. Material berukuran <4 mm disebut tuff, sedang yang berukuran >4 mm disebut breksi vulkanik.
Contoh batuan beku dari penggolongan ini adalah diorit dan andesit. Kelebihan dari penggolongan ini adalah mudah dipahami dan kemudahan dalam penamaan batuan. Sedangkan kekurangannya adalah penggolongannya tidak dapat memuat seluruh jenis batuan.
Read More

Potensi Zeolit di Indonesia

Mineral Zeolit
Zeolit alam merupakan senyawa alumino silikat terhidrasi , dengan unsur utama yang terdiri dari kation alkali dan alkali tanah. Senyawa ini berstruktur tiga dimensi dan mempunayi pori yang dapat diisi oleh molekul air.
Mineral zeolit yang paling umum dijumpai adalah klinoptirotit, yang mempunyai rumus kimia (Na3K3) (Al6Si30O72).24H2O. Ion Na+ dan Ka+ merupakan kation yang dapat dipertukarkan , sedangkan atom Al dan Si merupakan struktur kation dan oksigen yang akan membentuk struktur tetrahedron pada zeolit. Molekul - Molekul air yang terdapat dalam zeolit merupakan molekul molekul yang mudah lepas.
Zeolit alam terbentuk dari reaksi antara batuan tufa asam berbutir halus dengan air pori atau air meteorik. Penggunaan Zeolit adalah untuk bahan baku water treatment, pembersih limbah cair, limbah rumah tangga, industri pertanian , perternakan , perikanan , industri kosmetik , farmasi dan lain lain.

Potensi Penyebaran di Indonesia

Batuan pembawa mineral zeolite
Potensi penyebaran Zeolit di indonseia paling utama berada di daerah Jawa Barat dan Lampung.
Di Provinsi Lampung berada di daerah Campang Tiga, dan Talang Baru dengan total potensi sebesar 127 juta ton terdiri dari sumberdaya terukur sebesar 27 juta ton dan sumberdaya tereka sebesar 100 juta ton.
Sedangkan di Jawa Barat - Banten berada di daerah Sukabumi, Bogor dan Lebak (Banten) dengan total sumberdaya sebesar 26,452 juta ton terdiri dari sumberdaya terukur  sebesar 182 ribu ton dan sumberdaya tereka sebesar 25,243 juta ton.

Tambang Zeolite , Sierra County , Amerika (Ilustrasi tambang zeolite)

Sedangkan daerah lain yang berpotensi antara lain Ngendut , Kalitengah (Jawa Timur) sumberdaya hipotetik sebesar 1 juta ton, Polmas (Sulsel) sumberdaya tereka sebesar 2,4 juta ton, Ende (NTT) sumberdaya hipotetik sebesar 50 juta ton.

Produksi dan Konsumsi

Berdasarkan data BPS tahun 2002 diperkirakan diproduksi sebesar 60 ribu ton dengan konsumsi sebesar 57,474 ribu ton yang terdiri dari sektor pertanian sebesar 20 ribu ton, kimia sebesar 17 ribu ton, pakan ternak 6 ribu ton, pupuk sebesar 5,9 ribu ton , dan kosmetik sebesar 3 ribu ton.  Peluang pemanfaatan bahan galian zeolit ini sangat terbuka karena baru sedikit yang diproduksi dari cadangan yang ada. Selain itu tingkat konsumsi zeolit semakin meningkat terutama sektor industri.

Sumber
Data Produksi dan Konsumsi Zeolit , 2002 "Badan Pusat Statistik"
Kajian data Pertambangan " 2003' Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral
Read More

Kamis, 21 Juni 2018

Penjelasan Dan Definisi Batuan Beku

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari proses pembekuan magma. Batuan beku merupakan salah satu dari tiga jenis utama batuan. Dua jenis batuan lainnya adalah batuan sedimen dan batuan metamorf. Dari ketiga jenis batuan ini, hanya batuan beku yang terbentuk dari material yang meleleh. Dua jenis batuan beku yang umum dijumpai adalah granit dan basalt. Granit berwarna cerah/terang tersusun oleh mineral kuarsa, felspar dan mika berukuran besar. Basalt berwarna lebih gelap dan mengandung kristal-kristal berukuran kecil dari mineral olivin, piroksen dan felspar.


II. TIPE BATUAN BEKU

Ahli geologi mengklasifikasikan batuan beku berdasarkan kedalaman dari batuan tersebut terbentuk di dalam bumi. Berdasarkan prinsip ini, mereka membagi batuan beku menjadi dua kategori: batuan beku yang terbentuk di bawah permukaan bumi, dan yang terbentuk di atas permukaan bumi. Batuan beku juga diklasifikasikan berdasarkan komposisi mineralnya.

A. Klasifikasi Berdasarkan Kedalaman Pembentukannya

Batuan beku yang terbentuk di dalam bumi disebut batuan beku intrusif atau plutonik, karena magma asal dari batuan ini umumnya mengintrusi batuan sekitarnya. Batuan beku yang terbentuk di atas permukaan bumi disebut batuan beku ekstrusif. Pada batuan ekstrusif, magma naik melalui kepundan gunungapi atau rekahan.

Ahli geologi dapat membedakan antara batuan intrusif dan ekstrusif berdasarkan ukuran kristal dari mineral penyusunnya. Kristal pada batuan beku intrusif lebih besar daripada kristal pada batuan beku ekstrusif, hal ini disebabkan oleh magma yang membeku di dalam bumi terisolasi oleh batuan sekitarnya dan kemudian membeku secara perlahan. Pembekuan secara perlahan ini memberikan waktu bagi kristal untuk terbentuk secara sempurna. Batuan beku ekstrusif terbentuk dari proses pembekuan yang cepat, karena bersentuhan dengan udara luar, sehingga menghasilkan ukuran kristal yang sangat kecil. Pada beberapa kasus, magma membeku sangat cepat sehingga kristalnya tidak mempunyai waktu untuk terbentuk, dan magma membeku dalam bentuk gelas amorf, seperti pada obsidian.

Satu lagi jenis batuan beku, yaitu batuan beku porfiri, sebagiannya intrusif dan sebagian lagi ekstrusif. Batuan beku porfiri mempunyai kristal-kristal besar yang mengambang di antara massa kristal yang lebih kecil. Kristal besar terbentuk di bawah permukaan dan hanya meleleh pada temperatur yang tinggi. Mereka terbawa oleh lava ketika erupsi. Massa kristal yang lebih kecil terbentuk di sekeliling kristal besar ketika lava membeku secara cepat di permukaan.

B. Klasifikasi Berdasarkan Komposisi

Ahli geologi juga mengklasifikasikan batuan beku berdasarkan mineral yang terkandung di dalamnya. Apabila butiran mineral pada batuan cukup besar, ahli geologi dapat mengidentifikasi jenis mineral secara visual dan dengan mudah menentukan jenis batuannya. Namun, batuan beku ekstrusif umumnya berukuran butir sangat halus, tidak dapat dibedakan dengan pengamatan visual secara langsung. Ahli geologi harus mengklasifikasikan batuan ini dengan menentukan komposisi kimiawinya di laboratorium.

Unsur-unsur pembentuk magma umumnya sama dengan yang membentuk kerak dan mantel bumi: Oksigen (O), Silika (Si), Aluminium (Al), Besi (Fe), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Sodium (Na) dan Potasium (K). Unsur-unsur ini juga membentuk mineral-mineral utama seperti kuarsa, felspar, mika, amfibol, piroksen dan olivin. Batuan dan mineral yang kaya akan silika disebut felsik (felspar-silika). Sedangkan batuan dan mineral yang rendah silika namun kaya akan magnesium dan besi disebut mafik (magnesium-ferrum, bahasa latin dari besi). Batuan yang sangat rendah kandungan silikanya disebut ultramafik. Batuan yang berkomposisi di antara felsik dan mafik disebut batuan intermediet.

B1. Batuan Beku Felsik

Kuarsa adalah mineral yang hanya mengandung silikon dioksida (SiO2) tanpa ada kandungan aluminium, besi, magnesium, kalsium, sodium atau potasium. Mineral penting lainnya adalah felspar, seperempat hingga setengah kandungan silika seperti pada kuarsa digantikan oleh unsur aluminium. Felspar juga mengandung potasium, sodium atau kalsium, namun tidak mengandung magnesium dan besi.

Batuan beku intrusif yang bersifat felsik terbagi menjadi granit dan granodiorit, tergantung pada banyaknya kandungan potasium. Keduanya berwarna terang dan mengandung mineral kuarsa dan felspar berukuran kristal besar. Batuan beku ekstrusif yang memiliki komposisi kimia yang sama dengan granit adalah riolit, dan yang sama dengan granodiorit adalah dasit. Riolit dan dasit, keduanya berwarna terang dan mineralnya berukuran halus.

B2. Batuan Beku Intermediet

Batuan beku intermediet berkomposisi antara felsik dan mafik, terdiri dari syenit, monzonit atau monzodiorit apabila termasuk dalam kategori batuan intrusif. Dan trasit, latit dan andesit apabila termasuk dalam kategori batuan ekstrusif. Syenit dan trasit kaya akan potasium, sedangkan monzodiorit dan andesit mengandung sedikit potasium.

B3. Batuan Beku Mafik

Mineral-mineral mafik yang utama terdiri dari olivin, piroksen dan amfibol. Ketiganya mengandung silika dan juga banyak mengandung magnesium atau besi, atau keduanya. Umumnya mineral-mineral ini berwarna gelap.

Batuan beku intrusif yang bersifat mafik adalah diorit dan gabro. Keduanya berwarna gelap dengan kandungan mineral-mineral mafik berukuran besar sebanding dengan mineral felspar. Tidak mengandung kuarsa. Diorit mengandung amfibol dan piroksen, sedangkan gabro mengandung piroksen dan olivin. Felspar pada diorit cenderung kaya sodium, sedangkan felspar pada gabro cenderung kaya kalsium. Batuan beku ekstrusif yang memiliki komposisi kimia yang sama dengan diorit atau gabro disebut basalt. Basalt berukuran butir halus.

Batuan beku ultramafik berkomposisi hampir seluruhnya tersusun atas mineral mafik. Dunit berkomposisi lebih dari 90% olivin, peridotit mengandung 40% hingga 90% olivin ditambah piroksen dan amfibol sebagai mineral utama lainnya. Piroksenit berkomposisi utama mineral piroksen, dan hornblendit berkomposisi utama mineral hornblende, yang merupakan salah satu tipe mineral amfibol.

III. PEMBENTUKAN BATUAN BEKU

Magma yang merupakan asal batuan beku bersifat panas dan secara kimiawi mengandung campuran unsur yang kompleks. Ketika magma membeku, mineral-mineral yang berbeda-beda akan terbentuk. Bahkan, dua magma yang memiliki komposisi yang sama dapat membentuk kumpulan mineral yang berbeda, tergantung pada kondisi kristalisasinya.

Ketika magma membeku, mineral pertama yang terbentuk adalah mineral-mineral yang stabil pada kondisi temperatur tinggi (umumnya olivin dan anortit, salah satu tipe mineral felspar). Komposisi dari mineral pertama ini akan berbeda dengan komposisi asal magma. Konsekuensinya, mineral ini akan mengambil sebagian unsur dari magma dalam proporsi tertentu, hasilnya komposisi sisa pada magma juga berubah. Proses ini dikenal dengan nama diferensiasi magma. Terkadang, mineral-mineral yang terbentuk pertama kali ini terpisah dari magma asal, baik terendapkan pada dapur magma, atau melalui kompresi yang memisahkan magma dari mineral tersebut.

Ketika temperatur magma semakin menurun, mineral lainnya akan terbentuk dengan baik (seperti piroksen dan bitownit, salah satu tipe mineral felspar). Bagaimanapun juga, mineral yang pertama terbentuk tidak dapat berada di dalam magma bersama dengan mineral yang terbentuk kemudian. Apabila mineral pertama yang terbentuk tidak terpisah dari magma, mineral tersebut akan bereaksi atau terlarut kembali ke dalam magma. Proses ini berulang beberapa kali sepanjang temperatur magma yang semakin menurun hingga pada kondisi dimana mineral terakhir dapat terbentuk. Kumpulan akhir mineral yang terbentuk dari proses pendinginan magma ini dipengaruhi oleh tiga faktor: komposisi asal dari magma, derajat pendinginan dari mineral yang telah terbentuk saat terpisah dari magma asal, dan kecepatan pendinginan magma.

IV. BATUAN INTRUSIF

Ketika magma mengintrusi lapisan kerak bumi dan membeku, batuan beku yang dihasilkannya disebut batuan intrusi. Ahli geologi mendeskripsikan intrusi berdasarkan pada ukuran, bentuk dan posisinya konkordan (paralel terhadap struktur batuan sekitarnya) atau diskordan (memotong terhadap struktur batuan sekitarnya). Contoh dari intrusi konkordan adalah lapisan batuan beku yang terbentuk ketika magma mengalir paralel di antara lapisan horizontal batuan sekitarnya. Intrusi diskordan akan terbentuk ketika magma mengalir melalui rekahan batuan sekitarnya, dan rekahan tersebut membentuk sudut terhadap lapisan batuan sekitarnya.

Batolit adalah intrusi dengan area luas penampang lebih dari 100 km2, umumnya terbentuk dari granit, granodiorit dan diorit. Batolit dalam umumnya konkordan, sedangkan batolit dangkal umumnya diskordan. Batolit dalam dimensinya dapat sangat besar; Batolit Coast Range di Amerika Utara lebarnya 100 hingga 200 km dan memanjang sejauh 600 km melewati Alaska dan British Columbia, Kanada.

Lopolit adalah intrusi konkordan berbentuk cawan. Diameternya hingga 100 km dan memiliki ketebalan hingga 8 km. Lopolit, yang umumnya berkomposisi basaltik, kadang-kadang juga disebut intrusi berlapis karena kenampakannya memang berlapis-lapis. Contoh yang terkenal adalah Kompleks Bushveld di Afrika Selatan dan Intrusi Muskox di wilayah baratlaut Kanada.

Lacolit memiliki bagian bawah yang datar dan bagian atas berbentuk kubah, dan umumnya konkordan terhadap batuan sekitarnya. Umumnya berukuran kecil. Area dimana pertama kali ditemukan lacolit adalah di Pegunungan Henry di negara bagian Utah.

Dike dan sill adalah intrusi memanjang berukuran kecil. Sill bersifat konkordan dan dike bersifat diskordan. Keduanya umumnya berukuran kecil, namun dapat pula berukuran besar. Sill Palisades di negara bagian New York memiliki ketebalan 300 m dan terbentang sejauh 80 km.

V. BATUAN EKSTRUSIF

Berbagai macam tubuh batuan beku ekstrusif tersebar di seluruh dunia. Karakteristik fisik dari tubuh ekstrusif ini tergantung pada komposisi kimiawinya dan bagaimana mekanisme erupsi dari magma asalnya. Komposisi kimia dari magma asal mempengaruhi viskositas magma yang juga akan berpengaruh pada mekanisme erupsinya. Magma felsik cenderung lebih kental, sedangkan magma mafik cenderung lebih cair.

Flood basalt adalah salah satu tipe tubuh batuan beku ekstrusif yang terkenal. Terbentuk ketika lava basaltik yang sangat cair tererupsi melalui banyak saluran kepundan. Lava kemudian bersatu dan membanjiri area yang luas dan kedalaman hingga 100 m. Erupsi yang berulang-ulang dapat menghasilkan akumulasi endapan hingga ketebalan 5 km. Contoh yang terkenal adalah basalt Sungai Columbia di Washington dan Deccan Trap di bagian barat India; Deccan Trap ini melingkupi luas area lebih dari 500.000 km2.

Jika erupsi basalt berada di bawah permukaan air, pendinginan yang cepat akan membentuk tekstur yang khas dikenal sebagai lava bantal basalt. Lava bantal adalah aliran lava yang tersusun dari batuan beku berbentuk seperti kumpulan bantal yang saling berhubungan. Sebagian besar landas samudera tersusun oleh lava bantal basalt.

Batuan beku ekstrusif yang tererupsi dari kawah utama dapat membentuk gunungapi, dan diklasifikasikan berdasarkan bentuk fisik dan tipe aktivitas vulkaniknya. Lava mafik atau basaltik bersifat sangat cair dan erupsinya secara meleleh. Lava jenis ini cepat tersebar, membentuk gunungapi dengan kelerengan landai yang disebut gunungapi perisai. Mauna Loa (Hawaii) adalah contoh yang populer dari gunungapi perisai. Magma intermediet atau andesitik memiliki viskositas yang lebih tinggi sehingga erupsinya lebih bersifat eksplosif. Magma jenis ini membentuk gunungapi komposit dengan kelerengan curam. Gunungapi komposit, atau stratovolcano, tersusun dari lapisan-lapisan lava dan abu vulkanik. Contoh yang populer dari gunungapi komposit antara lain Gunung Rainier (Washington), Gunung Vesuvius (Italia), dan Gunung Fuji (Jepang).

Magma felsik bersifat sangat kental sehingga mengalir tidak terlalu jauh dari sumbernya. Bahkan membentuk kubah yang menyumbat saluran atau kepundan. Kubah lava ini dapat menyebabkan erupsi yang sangat eksplosif ketika terbentuk tekanan di dalam saluran yang tersumbat tersebut, seperti yang terjadi pada Gunung Saint Helens (Washington) tahun 1983, Krakatau (Indonesia) pada tahun 1883 dan Vesuvius (Italia) pada tahun 79 SM. Tipe dari letusan eksplosif ini dapat melemparkan sejumlah besar abu vulkanik dan fragmen batuan, dikenal sebagai material piroklastik, dan membentuk endapan piroklastik.

VI. TEKTONIK LEMPENG DAN BATUAN BEKU

Kemunculan teori tektonik lempeng pada tahun 1960-an menyediakan kerangka kerja teoritis untuk memahami sebaran berbagai macam tipe batuan beku di seluruh dunia. Berdasarkan teori tersebut, permukaan bumi tersusun oleh belasan lempeng tektonik besar. Beberapa lempeng ini berkomposisi utama basalt dan dikenal sebagai lempeng samudera, karena sebagian besar landas samudera tertutupi oleh basalt. Lempeng yang lainnya disebut lempeng benua, karena membentuk benua, dan berkomposisi bermacam-macam batuan, termasuk batuan sedimen dan metamorf serta sebagian besar granit.

Apabila dua lempeng bergerak saling menjauh (divergen), seperti pada pematang tengah samudera, magma bergerak ke permukaan untuk mengisi kekosongan. Magma ini berkomposisi mafik dan membentuk basalt. Apabila batas divergen ini berada di permukaan bumi, seperti di Islandia, flood basalt akan terbentuk.

Ketika lempeng samudera bertumbukan dengan lempeng benua, lempeng samudera yang densitasnya lebih berat akan menunjam di bawah lempeng benua. Sebagian dari material yang menunjam tersebut akan meleleh dan naik ke permukaan. Dalam perjalanannya naik menembus lempeng benua, magma ini akan melelehkan dan bercampur dengan material dari lempeng benua. Karena material benua rata-rata lebih felsik daripada material lempeng samudera, percampuran ini menyebabkan komposisi magma lebih intermediet. Magma yang sampai ke permukaan dapat membentuk gunungapi andesitik. Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah jalur gunungapi andesitik yang terbentuk dari penunjaman Lempeng Pasifik terhadap Lempeng Amerika Selatan. Apabila magma menjadi lebih felsik, dapat membentuk gunungapi riolitik seperti Gunung Saint Helens. Magma yang sangat kental dan sulit naik ke permukaan akan membentuk batolit granitik.

VII. NILAI EKONOMIS DARI BATUAN BEKU

Berbagai tipe batuan beku digunakan sebagai bahan bangunan, lantai keramik dan batu hiasan, sebagian lagi digunakan untuk meja, papan pemotong dan ukiran. Sebagai contoh, lantai keramik granit yang telah dipoles diekspor ke seluruh dunia dari beberapa negara seperti Italia, Brazil dan India.

Batuan beku juga dapat mengandung endapan bijih yang penting. Beberapa batuan beku intrusif mafik merupakan sumber dari unsur kromium, titanium, platinum dan palladium. Satu tipe batuan beku felsik, disebut sebagai pegmatit granitik, mengandung unsur-unsur tanah-jarang, seperti litium, tantalum, timah dan niobium, yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kimberlit, batuan beku yang terbentuk dari magma yang jauh di dalam bumi, merupakan sumber utama dari berlian. Banyak magma melepaskan, dalam jumlah besar, fluida panas kaya akan unsur logam yang bermigrasi melalui batuan sekitar, membentuk urat-urat batuan yang kaya akan bijih logam. Batuan beku yang baru terbentuk juga bersifat panas dan dapat menjadi sumber energi panas bumi.

===============
Diterjemahkan dari tulisan Frank Christopher Hawthorne pada Microsoft Encarta 2006, dengan beberapa koreksi dan perubahan.
Read More